OPINI
OPINI: Sinergi TPID Mengawal Inflasi Pangan 2026
Menjaga stabilitas daya beli masyarakat adalah fondasi utama. Ia merawat kesejahteraan bangsa. Stabilitas itu tercermin dari angka inflasi nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Opini-Analis-Yunior-di-Kantor-Pusat-Bank-Indonesia-Rabiul-Misa.jpg)
Di hulu, petani mendapatkan harga jual yang menyejahterakan.
Sementara itu, di hilir, masyarakat menikmati harga yang stabil dan terjangkau.
Efisiensi ini dapat dipastikan meminimalkan insentif bagi para spekulan pasar.
Tantangan kedua berfokus pada disparitas harga antarwilayah.
Kondisi ini sering kali lebih disebabkan disebabkan oleh kendala konektivitas logistik antar-pulau.
Biaya logistik domestik yang tinggi tak terhindarkan.
Baca juga: OPINI: Sepadankah Gugurnya Penjaga Perdamaian Tanpa Perdamaian
Di sinilah letak urgensi peran reformasi pasok masuk.
Koridor Logistik Pangan Nasional dapat dibentuk dengan mengintegrasikan jalur pelayaran niaga domestik dengan jaringan distribusi pangan.
Arus komoditas bergerak lebih lancar, cepat, dan murah.
Pasokan antar-daerah semakin terhubung dan memastikan bahwa keunggulan komparatif masing-masing wilayah.
Faktor ketiga perlu menaruh perhatian serius pada strategi struktural jangka panjang.
Perluasan investasi padat modal pada infrastruktur pascapanen (post-harvest infrastructure) semakin relevan.
Ambil contoh, langkah ini dapat ditempuh melalui pengembangan teknologi penyimpanan rantai dingin (cold chain system) seperti cold storage dan controlled atmosphere storage (CAS) di sentra-sentra produksi hortikultura.
Baca juga: OPINI Budidaya Bawang Merah: Ketika Tanah Berbatu Membalikkan Jalan Buntu
Infrastruktur ini menyasar komoditas yang memiliki karakteristik cepat rusak dan sensitif terhadap waktu.
Apalagi aneka cabai cabai dan bawang, kerap menjadi pemicu utama inflasi karena masa simpannya yang pendek.
Pada gilirannya, keberhasilan menjaga inflasi IHK di level 3,08 persen pada medio 2026 ini tentu mencerminkan kuatnya bauran kebijakan Bank Indonesia.
Lebih dari itu, sinergi ini telah memberikan stabilitas makroekonomi yang tangguh dan sehat hingga memperkokoh stimulus fiskal pemerintah.
Tapi kita perlu mencermati esensi sejati dari stabilitas harga pangan.
Pada tingkat yang paling mendasar, adalah urusan martabat dan masa depan sebuah bangsa.
Ia adalah jaminan bahwa seorang ibu rumah tangga di pelosok daerah dapat menyusun menu bergizi untuk keluarganya tanpa harus dihantui kecemasan finansial.
Baca juga: OPINI: Larangan Media Sosial untuk Anak, Apakah Alternatif Satu-satunya Jaga Generasi Bangsa?
Kita berharap TPID mampu melangkah melampaui kebijakan taktis. Fondasi struktural perlahan ditata.
Memotong rantai pasok yang asimetris, membangun koridor logistik antar-pulau, serta memodernisasi infrastruktur pascapanen.
Langkah ini senantiasa digencarkan.
Sebab, di sanalah ketahanan pangan yang sejati sedang dirajut.
Menjaga harga pangan tetap stabil dan terjangkau berarti kita sedang melindungi daya beli masyarakat, merawat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan yang terpenting, memastikan gerbang pendidikan serta masa depan anak-anak bangsa. (*)
(TribunnewsSultra.com)
| OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan |
|
|---|
| OPINI Qurban dan Stunting: Membaca Ulang Nilai Distribusi dalam Tafsir Al-Qur'an |
|
|---|
| OPINI: KEKERASAN SEKSUAL - Korban dan Kritik Sosial terhadap Budaya Impunitas |
|
|---|
| OPINI: Pancasila - Dialektika Materi dan Spiritual |
|
|---|
| OPINI: Kenaikan Royalti Minerba Sebaiknya Ditunda Demi Ketahanan Ekonomi Nasional |
|
|---|