Selasa, 16 Juni 2026

OPINI

OPINI: Sinergi TPID Mengawal Inflasi Pangan 2026

Menjaga stabilitas daya beli masyarakat adalah fondasi utama. Ia merawat kesejahteraan bangsa. Stabilitas itu tercermin dari angka inflasi nasional.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Sinergi TPID Mengawal Inflasi Pangan 2026
Istimewa
PENULIS OPINI - Analis Yunior di Kantor Pusat Bank Indonesia, Rabiul Misa, mengirimkan Opini: Sinergi TPID Mengawal Inflasi Pangan 2026 ke Redaksi TribunnewsSultra.com, Senin (15/6/2026). Menjaga stabilitas daya beli masyarakat adalah fondasi utama. (Istimewa) 

Di hulu, petani mendapatkan harga jual yang menyejahterakan.

Sementara itu, di hilir, masyarakat menikmati harga yang stabil dan terjangkau.

Efisiensi ini dapat dipastikan meminimalkan insentif bagi para spekulan pasar.

Tantangan kedua berfokus pada disparitas harga antarwilayah.

Kondisi ini sering kali lebih disebabkan disebabkan oleh kendala konektivitas logistik antar-pulau.

Biaya logistik domestik yang tinggi tak terhindarkan.

Baca juga: OPINI: Sepadankah Gugurnya Penjaga Perdamaian Tanpa Perdamaian

Di sinilah letak urgensi peran reformasi pasok masuk.

Koridor Logistik Pangan Nasional dapat dibentuk dengan mengintegrasikan jalur pelayaran niaga domestik dengan jaringan distribusi pangan.

Arus komoditas bergerak lebih lancar, cepat, dan murah.

Pasokan antar-daerah semakin terhubung dan memastikan bahwa keunggulan komparatif masing-masing wilayah.

Faktor ketiga perlu menaruh perhatian serius pada strategi struktural jangka panjang.

Perluasan investasi padat modal pada infrastruktur pascapanen (post-harvest infrastructure) semakin relevan.

Ambil contoh, langkah ini dapat ditempuh melalui pengembangan teknologi penyimpanan rantai dingin (cold chain system) seperti cold storage dan controlled atmosphere storage (CAS) di sentra-sentra produksi hortikultura.

Baca juga: OPINI Budidaya Bawang Merah: Ketika Tanah Berbatu Membalikkan Jalan Buntu

Infrastruktur ini menyasar komoditas yang memiliki karakteristik cepat rusak dan sensitif terhadap waktu.

Apalagi aneka cabai cabai dan bawang, kerap menjadi pemicu utama inflasi karena masa simpannya yang pendek.

Pada gilirannya, keberhasilan menjaga inflasi IHK di level 3,08 persen pada medio 2026 ini tentu mencerminkan kuatnya bauran kebijakan Bank Indonesia.

Lebih dari itu, sinergi ini telah memberikan stabilitas makroekonomi yang tangguh dan sehat hingga memperkokoh stimulus fiskal pemerintah. 

Tapi kita perlu mencermati esensi sejati dari stabilitas harga pangan.

Pada tingkat yang paling mendasar, adalah urusan martabat dan masa depan sebuah bangsa.

Ia adalah jaminan bahwa seorang ibu rumah tangga di pelosok daerah dapat menyusun menu bergizi untuk keluarganya tanpa harus dihantui kecemasan finansial. 

Baca juga: OPINI: Larangan Media Sosial untuk Anak, Apakah Alternatif Satu-satunya Jaga Generasi Bangsa?

Kita berharap TPID mampu melangkah melampaui kebijakan taktis. Fondasi struktural perlahan ditata.

Memotong rantai pasok yang asimetris, membangun koridor logistik antar-pulau, serta memodernisasi infrastruktur pascapanen.

Langkah ini senantiasa digencarkan.

Sebab, di sanalah ketahanan pangan yang sejati sedang dirajut. 

Menjaga harga pangan tetap stabil dan terjangkau berarti kita sedang melindungi daya beli masyarakat, merawat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan yang terpenting, memastikan gerbang pendidikan serta masa depan anak-anak bangsa. (*)

(TribunnewsSultra.com)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Berita Populer

Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved