OPINI
OPINI: Sinergi TPID Mengawal Inflasi Pangan 2026
Menjaga stabilitas daya beli masyarakat adalah fondasi utama. Ia merawat kesejahteraan bangsa. Stabilitas itu tercermin dari angka inflasi nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Opini-Analis-Yunior-di-Kantor-Pusat-Bank-Indonesia-Rabiul-Misa.jpg)
Oleh: Rabiul Misa
Analis Yunior di Kantor Pusat Bank Indonesia
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Menjaga stabilitas daya beli masyarakat adalah fondasi utama.
Ia merawat kesejahteraan bangsa.
Ketika stabilitas harga pangan terjaga, setiap keluarga memiliki ruang tumbuh yang aman.
Mengalokasikan pendapatan investasi masa depan, seperti kesehatan dan pendidikan anak lebih mudah.
Dalam konteks ekonomi makro, stabilitas harga pangan bagian yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Stabilitas itu tercermin dari angka inflasi nasional.
Rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional sebagai acuan inflasi nasional tampaknya terkendali.
Baca juga: OPINI: Gelar Haji dan Ironi Kesalehan: Kritik Sufistik atas Ego Ibadah Khas Modern
Per Mei 2026, angkanya tercatat 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka ini berada dalam koridor target sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Prestasi ini tentu jangkar optimisme di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Terlebih fluktuasi harga komoditas energi dunia.
Tapi kita perlu menelisik angka yang mencerminkan daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Dalam komponen inflasi, kita mengenal komponen volatile food.
| OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan |
|
|---|
| OPINI Qurban dan Stunting: Membaca Ulang Nilai Distribusi dalam Tafsir Al-Qur'an |
|
|---|
| OPINI: KEKERASAN SEKSUAL - Korban dan Kritik Sosial terhadap Budaya Impunitas |
|
|---|
| OPINI: Pancasila - Dialektika Materi dan Spiritual |
|
|---|
| OPINI: Kenaikan Royalti Minerba Sebaiknya Ditunda Demi Ketahanan Ekonomi Nasional |
|
|---|