Minggu, 7 Juni 2026

OPINI

OPINI: Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah

Opini yang ditulis Zainal Arifin Ryha tentang Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah
dokumentasi pribadi
PENULIS OPINI - Foto arsip Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Ia menuliskan opini terkait Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com, pada Minggu (7/6/2026). 

Opini ini ditulis Zainal Arifin Ryha, pemerhati sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Ia menuliskan opini terkait Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com, Minggu (7/6/2026).

Zainal Arifin Ryha

TRIBUNNEWSSULTRA.COM- Diskursus tentang hakikat manusia, mau tidak mau akan membawa kita pada persoalan pelik dan mendasar: Apakah manusia hakikatnya baik atau jahat?

Hingga kini para filsuf dan ilmuan sosial yang menggeluti persoalan ini belum bersepakat. Sebagian menganggap hakikat manusia itu baik, sebagian lagi justru berpandangan sebaliknya, manusia hakikatnya jahat.

Bagi mereka yang pesimistis, sejarah adalah panggung pembantaian. Kita bisa dengan mudah menyodorkan seribu fakta empiris kejahatan manusia—mulai dari Perang Dunia, genosida, kolonialisme, hingga keserakahan yang merusak ekosistem bumi. 

Dalam pandangan Thomas Hobbes, manusia adalah Homo Homini Lupus, serigala bagi sesamanya. Namun, di balik pekatnya sejarah, terdapat pula seribu fakta tandingan yang tak kalah kokoh. 

Sejarah juga mencatat kisah-kisah heroisme, solidaritas tanpa pamrih, gerakan kemanusiaan, hingga pengorbanan para martir demi keadilan. Dari sudut pandang ini, kebaikan adalah fondasi dasar, sementara kejahatan hanyalah anomali atau pengecualian yang lahir dari rusaknya sistem sosial.

Lantas, di mana posisi kita di tengah dualisme ini? Islam menawarkan jalan keluar yang elegan dari jebakan determinisme (pandangan bahwa manusia sudah dipatok hitam atau putih). Islam memandang manusia bukan sebagai makhluk yang linear, melainkan sebagai makhluk paradoksal.

Baca juga: OPINI: Dari Ruang Kerja ke Masa Depan Bumi: Peran Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Krisis Iklim

Fitrah dan Kehendak Bebas

Dalam teologi Islam, manusia tidak lahir membawa dosa warisan yang membuatnya inheren jahat, tidak pula dipaksa menjadi suci layaknya malaikat. Manusia dianugerahi potensi ganda (dual-nature). Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa jiwa manusia telah diilhami dua potensi sekaligus: potensi kefasikan (keburukan) dan potensi ketakwaan (kebaikan).

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 8-10)
 
Prinsip ini menegaskan bahwa kebaikan atau kejahatan tidak mewujud secara otomatis. Di sinilah kehendak bebas (free will) mengambil peran sentral. Manusia adalah sutradara atas moralitasnya sendiri. 

Sejarah menjadi penuh warna—terkadang kelam, terkadang gemilang—justru karena setiap individu memiliki kebebasan penuh untuk memilih potensi mana yang ingin mereka aktualisasikan dalam menulis sejarah hidupnya untuk memberi esensi kepada eksistensinya.

Ali Syariati: Dialektika Ruh dan Tanah

Untuk mempertajam pemahaman tentang paradoks ini, sosiolog dan pemikir revolusioner Muslim asal Iran, Ali Syariati, menawarkan pisau analisis yang sangat tajam melalui konsep antropologinya. Menurut Syariati, manusia adalah struktur dialektis yang tercipta dari dua unsur yang saling bertolak belakang: Ruh dan Tanah.

Dalam proses penciptaannya, manusia dibentuk dari tanah (tin), lalu ditiupkan ke dalamnya Ruh Allah (Ruhullah). Syariati tidak melihat ini sekadar sebagai proses biologis-metafisis, melainkan sebagai simbol eksistensial manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved