OPINI
OPINI Budidaya Bawang Merah: Ketika Tanah Berbatu Membalikkan Jalan Buntu
Potensi pengembangan klaster bawang merah di Muna membuka peluang perubahan lebih besar: membalikkan struktur pasokan dari konsumsi menjadi produksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Rabiul-Misa-penulis-opini-Budidaya-Bawang-Merah-Ketika-Tanah-Berbatu-Membalikkan-Jalan-Buntu.jpg)
Oleh: Rabiul Misa
Analis Yunior Bank Indonesia
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Bagi sebagian orang yang terlahir di Pulau Muna, ada satu lagu daerah yang akrab sejak kecil—Wuna Nokokasinta. Dalam salah satu baitnya terdapat ungkapan yang sangat dikenal: “Witeno Wuna, wite barakati”—tanah Muna adalah tanah yang diberkahi.
Dulu, kalimat itu mungkin hanya terasa sebagai nostalgia tentang tanah kelahiran. Namun semakin dewasa, maknanya terasa lebih dalam: tanah yang diberkahi bukan sekadar tanah yang subur, melainkan tanah yang mampu memberi kehidupan bagi orang-orang yang menjaganya.
Makna itu mulai menemukan bentuknya hari ini. Di lahan batu kapur yang selama ini dianggap keras dan kurang produktif, para petani di Kabupaten Muna mulai menanam komoditas yang menuntut ketelatenan: bawang merah.
Beberapa waktu lalu bahkan diberitakan panen perdana sekitar dua ton di Kecamatan Tongkuno Selatan dari lahan percobaan petani bersama pemerintah daerah.
Angkanya memang belum besar, tetapi cukup memberi pertanda bahwa di tanah kepulauan, bahkan lahan berbatu sekalipun dapat menumbuhkan tanaman bagi sumber kehidupan.
Baca juga: Petani Sultra Dikirim ke Sulsel Belajar Budi Daya Cabai dan Bawang, Upaya Gubernur ASR Tekan Inflasi
Ketegangan Geopolitik dan Stabilitas Pangan
Dalam beberapa waktu terakhir, tensi geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan dunia, terutama di Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Selat ini bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ia adalah salah satu “gerbang energi” dunia. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan risiko gangguan distribusi muncul, harga minyak dunia sering kali langsung merespons.
Ada sebuah ungkapan populer dalam ekonomi global: kepakan sayap kupu-kupu di satu tempat dapat memicu badai di tempat lain. Dalam dunia yang saling terhubung, gejolak kecil di satu kawasan dapat menjalar jauh melampaui batas geografisnya.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dapat berdampak luas. Biaya transportasi meningkat, ongkos logistik naik, dan harga berbagai barang ikut terdorong naik.
Sekilas, peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun dalam ekonomi modern yang saling terhubung, gejolak global sering kali menjalar hingga ke pasar tradisional.
Baca juga: OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?
Rantai distribusi pangan ibarat urat nadi yang menghubungkan ladang petani dengan dapur rumah tangga. Ketika biaya logistik meningkat, denyut nadi itu ikut tersendat—dan harga pangan di pasar pun mulai bergejolak.
Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai second round effect, ketika tekanan biaya pada sektor energi akhirnya merambat ke harga berbagai komoditas konsumsi.
Karena itu, kekuatan produksi pangan lokal menjadi semakin krusial untuk menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat.