OPINI
OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan
Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pemerhati-Sosial-sekaligus-mantan-Ketua-HMI-Cabang-Ujungpandang-Zainal-Arifin-Ryha.jpg)
Hari ini, kita melihat cuaca politik Indonesia yang tidak menentu, telah mendorong banyak orang kembali menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi untuk menumpahkan keresahan.
Di tengah situasi ini, muncul sosok pemuda bernama Tyo Ardianto, yang seolah menjelma menjadi Camille Desmoulins baru, menyerukan perlawanan dari balik meja diskusi.
Akankah sejarah Indonesia ke depan berakhir tragis seperti Prancis yang berdarah-darah, atau bertransisi tenang seperti Inggris?
Jawabannya tidak berada di dasar cangkir kopi Anak Senja (Coffehouse Member), melainkan tergantung pada bagaimana pihak istana merespons menjamurnya "kedai-kedai kopi" dan ruang kritik hari ini.
(TribunnewsSultra.com)
| OPINI: UCLG ASPAC 2026 - Menguji Arah Paradiplomasi Kota Kendari |
|
|---|
| OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan |
|
|---|
| OPINI: Tarif Denda Administratif Pelanggaran Kegiatan Usaha Pertambangan di Kawasan Hutan |
|
|---|
| OPINI Dari Pembubaran Menuju Pembaruan: Membangun Ruang Diskursus Berbasis Data di Kolaka Utara |
|
|---|
| OPINI: Larangan Media Sosial untuk Anak, Apakah Alternatif Satu-satunya Jaga Generasi Bangsa? |
|
|---|