OPINI
OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan
Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pemerhati-Sosial-sekaligus-mantan-Ketua-HMI-Cabang-Ujungpandang-Zainal-Arifin-Ryha.jpg)
Oleh: Zainal Arifin Ryha
Pemerhati Sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Tahun 1789, Prancis berada di titik nadir.
Rakyat jelata yang didera amarah akibat beban pajak yang mencekik, sementara kaum bangsawan dan keluarga kerajaan hidup dalam gelimang kemewahan di atas kebangkrutan negara akibat perang.
Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.
Seorang pemuda bernama Camille Desmoulins melompat ke atas meja kedai kopi.
Dengan suara lantang, ia berpidato di hadapan kerumunan massa yang berkumpul, menyerukan rakyat untuk angkat senjata.
Hanya dua hari setelah seruan di kedai kopi itu, Benteng Bastille jatuh.
Monarki Prancis yang telah berumur berabad-abad mulai retak, memicu gejolak hebat selama tiga tahun berikutnya, hingga akhirnya pada September 1792, monarki resmi dihapus dan Republik Prancis dideklarasikan.
Baca juga: OPINI Qurban dan Stunting: Membaca Ulang Nilai Distribusi dalam Tafsir Al-Quran
Kedai kopi secara harfiah telah menyalakan api revolusi.
"Penny University" dan Ketakutan Penguasa
Kisah di Prancis membuktikan sebuah ironi sejarah: sebuah kerajaan terkadang lebih takut pada secangkir kopi ketimbang moncong meriam tentara musuh.
Dan ketakutan terhadap kafein ini sebenarnya memiliki akar yang jauh lebih tua.
Lebih dari seabad sebelum Revolusi Prancis, Raja Inggris Charles II sudah merasakan kegelisahan yang sama.
Sejak tahun 1600-an, kedai kopi menjamur di London dan mendapat julukan "Penny University".
Mengapa? Karena hanya dengan membayar satu Penny di pintu masuk, siapa saja bisa duduk berjam-jam, menyesap kopi, sembari berdiskusi dan mengkritik kebijakan penguasa.
Merasa gerah dengan ketajaman lidah para pengunjung kedai, pada Desember 1675, Raja Charles II menandatangani dekrit untuk menutup seluruh kedai kopi di kerajaan dengan dalih tempat tersebut menjadi sarang penyebaran berita bohong (hoaks) dan fitnah yang mengancam stabilitas negara.
Baca juga: OPINI: KEKERASAN SEKSUAL - Korban dan Kritik Sosial terhadap Budaya Impunitas
Namun, represi ini memicu kemarahan besar rakyat.
Hanya dalam waktu 11 hari, sang raja terpaksa menarik kembali dekritnya.
Sejarah kemudian mencatat bahwa melarang ruang publik dengan paksa dan kekerasan adalah sebuah kegagalan total.
Siasat Teh: Memindahkan Riuh
Namun, sejarah selalu punya cara yang menarik untuk mendidik kita.
Kegaduhan di ruang publik tidak selalu hilang karena dilarang; kadang kala, ia meredup dengan sendirinya melalui pengalihan taktik.
Beberapa tahun sebelum Revolusi Prancis meletus, Inggris mengambil langkah tak terduga dengan memangkas pajak teh secara drastis, dari 119 persen menjadi hanya 12,5 persen.
Seketika, teh menjadi komoditas yang murah, legal, dan tersedia di mana-mana.
Baca juga: OPINI: Pancasila - Dialektika Materi dan Spiritual
Nilai impornya bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun.
Pergeseran konsumsi ini mengubah lanskap sosial: Kopi diseruput di kedai-kedai riuh, memicu perdebatan politik dan melahirkan pergerakan besar, sementara teh diseruput di rumah dengan tenang bersama keluarga, jauh dari meja-meja diskusi yang panas.
Entah disengaja atau tidak oleh penguasa saat itu, perlahan eksistensi kedai kopi mulai meredup.
Perdebatan politik yang mengancam kekuasaan berpindah dari ruang publik yang ramai menuju ruang-ruang tamu yang sepi dan domestik.
Refleksi untuk Indonesia
Pelajaran terbesar dari fragmen sejarah ini bukanlah tentang komoditas kopi atau teh, melainkan tentang sebuah pola kekuasaan.
Ketika tujuannya adalah meredam keriuhan di ruang publik, meresponsnya dengan cara represif justru akan membuat perlawanan semakin masif.
Sebaliknya, ketika penguasa berhasil menciptakan kondisi di mana berdiam diri di rumah terasa jauh lebih nyaman dan aman daripada harus turun ke jalan, kegaduhan politik itu akan meredup dengan sendirinya.
Baca juga: OPINI: Kenaikan Royalti Minerba Sebaiknya Ditunda Demi Ketahanan Ekonomi Nasional
Hari ini, kita melihat cuaca politik Indonesia yang tidak menentu, telah mendorong banyak orang kembali menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi untuk menumpahkan keresahan.
Di tengah situasi ini, muncul sosok pemuda bernama Tyo Ardianto, yang seolah menjelma menjadi Camille Desmoulins baru, menyerukan perlawanan dari balik meja diskusi.
Akankah sejarah Indonesia ke depan berakhir tragis seperti Prancis yang berdarah-darah, atau bertransisi tenang seperti Inggris?
Jawabannya tidak berada di dasar cangkir kopi Anak Senja (Coffehouse Member), melainkan tergantung pada bagaimana pihak istana merespons menjamurnya "kedai-kedai kopi" dan ruang kritik hari ini.
(TribunnewsSultra.com)
| OPINI: UCLG ASPAC 2026 - Menguji Arah Paradiplomasi Kota Kendari |
|
|---|
| OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan |
|
|---|
| OPINI: Tarif Denda Administratif Pelanggaran Kegiatan Usaha Pertambangan di Kawasan Hutan |
|
|---|
| OPINI Dari Pembubaran Menuju Pembaruan: Membangun Ruang Diskursus Berbasis Data di Kolaka Utara |
|
|---|
| OPINI: Larangan Media Sosial untuk Anak, Apakah Alternatif Satu-satunya Jaga Generasi Bangsa? |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.