OPINI
OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan
Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pemerhati-Sosial-sekaligus-mantan-Ketua-HMI-Cabang-Ujungpandang-Zainal-Arifin-Ryha.jpg)
Merasa gerah dengan ketajaman lidah para pengunjung kedai, pada Desember 1675, Raja Charles II menandatangani dekrit untuk menutup seluruh kedai kopi di kerajaan dengan dalih tempat tersebut menjadi sarang penyebaran berita bohong (hoaks) dan fitnah yang mengancam stabilitas negara.
Baca juga: OPINI: KEKERASAN SEKSUAL - Korban dan Kritik Sosial terhadap Budaya Impunitas
Namun, represi ini memicu kemarahan besar rakyat.
Hanya dalam waktu 11 hari, sang raja terpaksa menarik kembali dekritnya.
Sejarah kemudian mencatat bahwa melarang ruang publik dengan paksa dan kekerasan adalah sebuah kegagalan total.
Siasat Teh: Memindahkan Riuh
Namun, sejarah selalu punya cara yang menarik untuk mendidik kita.
Kegaduhan di ruang publik tidak selalu hilang karena dilarang; kadang kala, ia meredup dengan sendirinya melalui pengalihan taktik.
Beberapa tahun sebelum Revolusi Prancis meletus, Inggris mengambil langkah tak terduga dengan memangkas pajak teh secara drastis, dari 119 persen menjadi hanya 12,5 persen.
Seketika, teh menjadi komoditas yang murah, legal, dan tersedia di mana-mana.
Baca juga: OPINI: Pancasila - Dialektika Materi dan Spiritual
Nilai impornya bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun.
Pergeseran konsumsi ini mengubah lanskap sosial: Kopi diseruput di kedai-kedai riuh, memicu perdebatan politik dan melahirkan pergerakan besar, sementara teh diseruput di rumah dengan tenang bersama keluarga, jauh dari meja-meja diskusi yang panas.
Entah disengaja atau tidak oleh penguasa saat itu, perlahan eksistensi kedai kopi mulai meredup.
Perdebatan politik yang mengancam kekuasaan berpindah dari ruang publik yang ramai menuju ruang-ruang tamu yang sepi dan domestik.
Refleksi untuk Indonesia
Pelajaran terbesar dari fragmen sejarah ini bukanlah tentang komoditas kopi atau teh, melainkan tentang sebuah pola kekuasaan.
Ketika tujuannya adalah meredam keriuhan di ruang publik, meresponsnya dengan cara represif justru akan membuat perlawanan semakin masif.
Sebaliknya, ketika penguasa berhasil menciptakan kondisi di mana berdiam diri di rumah terasa jauh lebih nyaman dan aman daripada harus turun ke jalan, kegaduhan politik itu akan meredup dengan sendirinya.
Baca juga: OPINI: Kenaikan Royalti Minerba Sebaiknya Ditunda Demi Ketahanan Ekonomi Nasional
| OPINI: UCLG ASPAC 2026 - Menguji Arah Paradiplomasi Kota Kendari |
|
|---|
| OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan |
|
|---|
| OPINI: Tarif Denda Administratif Pelanggaran Kegiatan Usaha Pertambangan di Kawasan Hutan |
|
|---|
| OPINI Dari Pembubaran Menuju Pembaruan: Membangun Ruang Diskursus Berbasis Data di Kolaka Utara |
|
|---|
| OPINI: Larangan Media Sosial untuk Anak, Apakah Alternatif Satu-satunya Jaga Generasi Bangsa? |
|
|---|