OPINI
OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan
Suatu pagi di Pasar Anduonuhu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang ibu rumah tangga menatap timbangan cabai di tangan pedagang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ilustrasi-inflasi-pangan.jpg)
Oleh: Rabiul Misa
Analis Yunior Bank Indonesia
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Suatu pagi di Pasar Anduonuhu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang ibu rumah tangga menatap timbangan cabai di tangan pedagang.
Sedikit ragu, angkanya terasa lebih tinggi dari pekan lalu. Walau jumlahnya dikurangi, Ia tetap saja membeli. Tidak ada pilihan lain.
Anehnya, seorang petani di sebuah kebun, justru merasa tidak ada yang banyak berubah. Harga cabai yang ia petik masih di kisaran yang sama.
Hampir datar. Di titik ini, terasa ada yang janggal. Harga naik di hilir, tetapi tidak benar-benar mengangkat pendapatan di hulu.
Kisah seperti ini sebenarnya cukup klasik. Jika ditelisik polanya berulang. Harga bahan pangan bisa melonjak cepat, kadang tanpa tanda, kadang tanpa jeda, sementara kehidupan petani terasa jalan di tempat.
Seolah hasil bumi harus menempuh perjalanan begitu panjang, barulah tiba di meja makan.
Biasanya tanaman dipanen para petani, didisitribusikan para tengkulak, lalu dijual para pedagang. Di sepanjang rantai pasok itulah biaya angkut membebani harga jual. Tak heran, nilainya perlahan merangkak.
Lalu muncul pertanyaan yang sulit dihindari. Apakah jalurnya memang harus sepanjang itu? Atau sebenarnya bisa dipangkas tanpa membuat salah satu pihak menanggung lebih banyak beban?
Baca juga: OPINI: Tarif Denda Administratif Pelanggaran Kegiatan Usaha Pertambangan di Kawasan Hutan
Pasar Tani di Tugu Pilar
Pertanyaan itu terasa lebih konkret ketika membaca tajuk berita di media sepekan kemarin.
Di sana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara diberitakan menginisiasi Pasar Tani Hortikultura. Sekilas tampak seperti pasar biasa. Tapi ada arah kebijakan di baliknya.
Lokasinya di Tugu Pilar, pusat Kota Kendari. Tempat yang mudah dijangkau dan juga strategis. Petani dan konsumen, tanpa banyak perantara bertemu langsung.
Yang dijual bahan makanan segar. Cabai, bawang merah, tomat, sayuran segar. Komoditas yang sama dengan yang ada di pasar pada umumnya. Bedanya ada pada jalurnya.
Di sini, barang berpindah langsung dari tangan petani ke pembeli. Lebih singkat. Lebih terang.
Selisih harga menjadi perbedaan yang mencolok. Ambil contoh, Bawang merah di pasar biasanya dibanderol sekitar Rp45.000 per kilogram.