OPINI
OPINI: UCLG ASPAC 2026 - Menguji Arah Paradiplomasi Kota Kendari
Opini ini ditulis Ardika Jendra Hidayah, mahasiswa aktif UIN Alauddin Makassar asal Kota Kendari Sulawesi Tenggara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Foto-arsip-penulis-Opini-Ardika-Jendra-Hidayah.jpg)
Opini ini ditulis Ardika Jendra Hidayah, mahasiswa aktif UIN Alauddin Makassar, Jurusan Hubungan Internasional, Ketua Komisi Kebijakan & Aspirasi Senat Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Periode 2025-2026, Sekretaris Umum Jelajah Jarak (Lembaga Gerakan dan Literasi) yang saat ini sedang aktif menulis isu-isu mengenai kerja sama internasional kontemporer dan paradiplomasi daerah. Ardika berasal dari Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - “Terpilihnya Kota Kendari sebagai pusat pertemuan UCLG ASPAC tahun 2026 adalah hasil dari upaya diplomasi Pemerintah Kota Kendari untuk meyakinkan seluruh delegasi bahwa Kota Kendari siap menunjukkan tajuknya dalam forum internasional.” Ujar Wakil Wali Kota Kendari (Sudirman) saat berbincang dengan Ardika pada 04 Mei 2026.
Tidak banyak yang menyadari bahwa dalam beberapa hari lagi Kota Kendari akan menjadi sebuah forum internasional yang mempertemukan pemerintah kota dengan jumlah lebih dari 236 delegasi dari berbagai negara di Kawasan Asia-Pasifik pada 7-9 Mei 2026 mendatang. Forum tersebut adalah UCLG ASPAC (United Cities and Local Governments Asia-Pasific), sebuah jejaring kerjasama antar pemerintah daerah skala internasional yang berfokus pada agenda global seperti Pembangunan, tata kelola, lingkungan hingga sektor pariwisata.
Meski terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari, agenda ini dalam perspektif yang lebih luas menandai satu hal penting, Selama ini, keterlibatan kota-kota Indonesia dalam jejaring UCLG ASPAC lebih dulu diwakili oleh kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Makassar dan Semarang. Kini Kota Kendari sebagai emerging city dalam jejaring ini menjadi pusat perhatian. Terlebih, agenda ini mengusung tema Advancing Sustainable Tourism for a Resilient Future and Inclusive Economy, yang menempatkan pariwisata berkelanjutan dan keberlangsungan ekonomi sebagai bagian dari arah Pembangunan kota di masa depan.
Baca juga: OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan
Dalam studi Hubungan Internasional, interaksi global selama ini identik dengan hubungan antarnegara. Namun perkembangan globalisasi menunjukkan bahwa aktor subnasional, seperti pemerintah daerah, kini semakin aktif mengambil peran. Fenomena ini dikenal sebagai “paradiplomasi”, yakni praktik kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendorong Pembangunan di berbagai sektor, termasuk pariwisata yang kini menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Forum UCLG ASPAC menjadi ruang konkrit praktik tersebut. Pada setiap pertemuannya, seluruh kota-kota yang terlibat tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring, merumuskan agenda seksama, penggelaran agenda expo yang tentu semua ini dapat membuka peluang kerjasama yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi dipandang semata sebagai sektor ekonomi, melainkan sebagai instrument untuk memperkuat ketahanan kota sekaligus mendorong pemerataan manfaat Pembangunan.
Sebagai kota pesisir dengan potensi alam dan budaya yang khas, Kendari memiliki peluang untuk menempatkan diri dalam arus pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.
Momentum ini tidak hanya membuka ruang untuk memperkenalkan identitas kota, tetapi juga memperluas jejaring kerja sama antar kota, khususnya dalam sektor pembangunan ekonomi yang semakin terhubung secara global.
Potensi tersebut tidak berhenti pada tataran gagasan. Pemerintah Kota Kendari melihat forum ini sebagai langkah konkret untuk mendorong pemberdayaan ekonomi lokal, terutama melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam pertemuan bersama Wakil Wali Kota Kendari (Sudirman) menegaskan bahwa kehadiran delegasi internasional dimanfaatkan sebagai ruang promosi langsung bagi produk-produk unggulan daerah.
“Momentum ini kami manfaatkan untuk memperkenalkan potensi lokal secara langsung kepada delegasi, mulai dari olahan perikanan, produk mete dan sagu, hingga kerajinan tenun. Harapannya, ini tidak hanya berhenti pada promosi, tetapi membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM di Kendari,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah kota juga menyiapkan langkah konkret agar promosi tersebut memiliki keberlanjutan. Melalui penyelenggaraan expo UMKM, pengalokasian anggaran untuk pembelian produk lokal yang kemudian diberikan kepada delegasi, serta penyertaan informasi kontak produsen dalam setiap produk, diharapkan dapat membuka peluang transaksi lanjutan secara langsung.
Dengan pendekatan tersebut, forum ini tidak hanya dimaknai sebagai pertemuan antar kota, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi terbentuknya kerja sama ekonomi yang lebih luas. Interaksi yang terbangun antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dari berbagai negara membuka peluang baru bagi Kota Kendari untuk terlibat dalam jejaring pembangunan global, khususnya di sektor ekonomi.
Kendati demikian, momentum ini tetap perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih terarah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana forum ini dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kebijakan pembangunan daerah yang berkelanjutan, bukan sekedar agenda seremonial.
Baca juga: Update Cuaca Hari Ini 6 Mei 2026 di Kendari dan Sekitarnya, Hujan Ringan Guyur Kota Lulo
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kerja sama internasional di tingkat lokal sering kali menghadapi tantangan, seperti keterbatasan kelembagaan, perbedaan tata kelola, serta belum optimalnya integrasi dengan kebutuhan daerah. Dalam konteks pariwisata, tanpa perencanaan yang matang, pengembangan yang dilakukan berisiko tidak sepenuhnya memberikan dampak yang merata bagi masyarakat.