Selasa, 26 Mei 2026

OPINI

OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan

Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan
Istimewa
PENULIS OPINI - Pemerhati Sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang, Zainal Arifin Ryha. Ia menuliskan Opini: Secangkir Kopi dan Runtuhnya Kekuasaan yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com, Selasa (26/5/2026). (Istimewa) 

Oleh: Zainal Arifin Ryha

Pemerhati Sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - ​Tahun 1789, Prancis berada di titik nadir.

Rakyat jelata yang didera amarah akibat beban pajak yang mencekik, sementara kaum bangsawan dan keluarga kerajaan hidup dalam gelimang kemewahan di atas kebangkrutan negara akibat perang.

Di tengah situasi yang meruncing itu, sebuah pemantik muncul bukan dari barak militer, melainkan dari sebuah kedai kopi.

​Seorang pemuda bernama Camille Desmoulins melompat ke atas meja kedai kopi.

Dengan suara lantang, ia berpidato di hadapan kerumunan massa yang berkumpul, menyerukan rakyat untuk angkat senjata. 

Hanya dua hari setelah seruan di kedai kopi itu, Benteng Bastille jatuh.

Monarki Prancis yang telah berumur berabad-abad mulai retak, memicu gejolak hebat selama tiga tahun berikutnya, hingga akhirnya pada September 1792, monarki resmi dihapus dan Republik Prancis dideklarasikan.

Baca juga: OPINI Qurban dan Stunting: Membaca Ulang Nilai Distribusi dalam Tafsir Al-Quran

Kedai kopi secara harfiah telah menyalakan api revolusi.

"Penny University" dan Ketakutan Penguasa

Kisah di Prancis membuktikan sebuah ironi sejarah: sebuah kerajaan terkadang lebih takut pada secangkir kopi ketimbang moncong meriam tentara musuh.

Dan ketakutan terhadap kafein ini sebenarnya memiliki akar yang jauh lebih tua.

​Lebih dari seabad sebelum Revolusi Prancis, Raja Inggris Charles II sudah merasakan kegelisahan yang sama.

Sejak tahun 1600-an, kedai kopi menjamur di London dan mendapat julukan "Penny University".

Mengapa? Karena hanya dengan membayar satu Penny di pintu masuk, siapa saja bisa duduk berjam-jam, menyesap kopi, sembari berdiskusi dan mengkritik kebijakan penguasa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved