Demo Mahasiswa di Polda Sultra

Mahasiswa Kendari Kenang Randi-Yusuf Saat Protes Kematian Pengemudi Ojol di Polda Sulawesi Tenggara

Mahasiswa memblokade jalan, membakar ban, dan berorasi, menuntut pertanggungjawaban atas tindakan represif polisi.

Penulis: Sugi Hartono | Editor: Sitti Nurmalasari
Dokumentasi TribunnewsSultra
DEMO MAHASISWA KENDARI - Kematian tragis pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, memicu gelombang protes mahasiswa di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (29/8/2025). Affan tewas tertabrak kendaraan taktis (rantis) polisi saat demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Dokumentasi TribunnewsSultra.com) 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kematian tragis pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, memicu gelombang protes mahasiswa di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (29/8/2025).

Affan tewas tertabrak kendaraan taktis (rantis) polisi saat demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

Aksi demonstrasi mahasiswa ini tidak hanya menuntut keadilan atas kematian Affan.

Namun, juga mengungkit kembali tragedi 2019 yang menewaskan dua mahasiswa Kendari, Randi dan Yusuf.

Keduanya tewas usai tertembak saat protes Rancangan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK).

Baca juga: BREAKING NEWS Mahasiswa Kendari ‘Duduki’ Markas Polda Sulawesi Tenggara hingga Malam, Pagar Rusak

​Mahasiswa memulai aksinya, Jumat sore.

Lalu lintas di beberapa ruas jalan dilumpukan seperti Bundaran Tank di Jalan Malaka, Bundaran Gubernur di Jalan Martandu, dan Mako Polda Sultra di Jalan Haluoleo.

Mahasiswa memblokade jalan, membakar ban, dan berorasi, menuntut pertanggungjawaban atas tindakan represif polisi.

Ketegangan memuncak di depan Mako Polda Sultra, Jalan Haluoleo, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu.

Massa berhasil merobohkan pagar markas polisi yang diiringi sorak sorai.

Baca juga: Mahasiswa Kendari Robohkan Pagar Markas Polda Sultra, Tuntut Kapolri Mundur Buntut Kematian Ojol

Koordinator Lapangan, Muhammad Abdan menjelaskan tindakan ini adalah wujud kekecewaan mereka terhadap polisi.

"Itu bentuk kekecewaan kami terhadap polisi. Mereka tidak paham tugas dan fungsinya, padahal sudah digaji dan berseragam, tapi tetap menganiaya masyarakat," ujar Presiden Mahasiswa IAIN Kendari ini, di depan Mako Polda Sultra, Jumat (29/8/2025).

Sementara itu, dalam orasi yang berlangung sekitar tiga jam ini, demonstran melontarkan kritik keras terhadap polisi.

"Kalian itu digaji sama pajaknya orang tua kami, tapi kenapa kalian selalu memukul rakyat," teriak salah satu orator.

​Tak hanya itu, aksi ini juga membawa kembali ingatan akan tragedi 2019 yang menimpa Randi dan Yusuf.

Baca juga: Jaringan Perempuan Pembela HAM: Tolak Tunjangan DPR hingga Setop Kekerasan Terhadap Pengunjuk Rasa

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved