OPINI
OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan
Suatu pagi di Pasar Anduonuhu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang ibu rumah tangga menatap timbangan cabai di tangan pedagang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ilustrasi-inflasi-pangan.jpg)
Di pasar tani hanya dijual sekitar Rp42.000. Selisihnya memang tidak seberapa, tetapi cukup berarti bagi rumah tangga.
Baca juga: OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat
Program ini sesungguhnya bagian dari Gerakan Pangan Murah yang dijalankan TPID atau Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
Tujuannya jelas. Menjaga harga pangan tetap terkendali sehingga daya beli Masyarakat tidak ikut tergerus. Langkah ini ditempuh dengan cara memperpendek jalur distribusi.
Yang menarik, efeknya tidak berhenti di harga. Ada relasi yang terbentuk. Pembeli bisa melihat langsung siapa yang menanam.
Petani tahu siapa yang mengonsumsi. Ada kedekatan yang selama ini terasa sulit imbas tata niaga pangan yang tampak rumit.
Inflasi Pangan dan Dinamika Harga
Kalau melihat angka inflasi Sulawesi Tenggara, langkah ini terasa semakin masuk akal. Januari 2026 berada di sekitar 5,10 persen.
Februari naik ke 5,41 persen. Maret turun ke 3,37 persen. Turun, memang. Tapi apakah tekanan benar-benar hilang?
Ketika dilihat lebih dekat, kelompok makanan biasanya rentan terhadap gejolak. Sekitar 3,10 persen untuk makanan minuman dan tembakau.
Baca juga: Harga Cabai dan Bawang Normal di Pasar Korem Kendari, Tomat Masih Rp22 Ribu per Kilogram
Sementara makanan saja berada di kisaran 2,89 persen. Karena itu, angka ini tidak bisa diabaikan.
Komoditas seperti cabai, bawang merah, dan sayuran memang sensitif. Sedikit gangguan bisa berdampak signifikan.
Cuaca berubah, distribusi tersendat, biaya transportasi naik. Harga ikut bergerak. Kadang terlalu cepat.
Istilahnya dikenal sebagai volatile food. Komoditas yang pergerakan harganya sulit ditebak. Hari ini stabil, besok bisa melonjak. Dalam situasi seperti ini, ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian.
Kalau dipikir lebih jauh, persoalan ini tidak selalu bermula dari produksi. Faktanya, kebanyakan petani sudah mengikuti pola musim tanam. Tetapi jalur distribusi sering menjadi faktor penentu hingga harga kadang berubah arah.
Ketika distribusi lancar, pasokan mengalir dengan baik. Harga lebih terjaga. Tetapi begitu ada hambatan, efeknya langsung terasa di pasar. Cepat, dan kadang sulit dikendalikan.
Memangkas Jalur Distribusi Pangan
Masalah utamanya sebenarnya tidak rumit. Rantai distribusi yang terlalu panjang. Dari petani ke pengepul, lalu ke pedagang besar, distributor, hingga akhirnya sampai ke pasar. Pendek kata, banyak pihak yang terlibat.