OPINI
OPINI: Memangkas Jalur Pasokan, Meredam Inflasi Pangan
Suatu pagi di Pasar Anduonuhu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang ibu rumah tangga menatap timbangan cabai di tangan pedagang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ilustrasi-inflasi-pangan.jpg)
Setiap tangan membawa biaya. Juga margin. Itu bagian dari mekanisme pasar. Apalagi ketika lapisannya terlalu banyak, harga di ujung menjadi jauh dari harga semula.
Petani menjual dengan harga tertentu. Konsumen membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi. Selisih itulah yang dinamakan price spread. Kalau begitu, siapa yang sebenarnya menikmati nilai tambah?
Abhijit Banerjee pernah menyoroti hal ini. Banyak persoalan ekonomi di negara berkembang tidak berhenti di produksi. Akses pasar dan efisiensi distribusi justru menjadi faktor utama.
Artinya, masalahnya bukan karena pasokan pangan tidak tersedia. Masalahnya muncul karena jalurnya terlalu berliku.
Di sinilah pasar tani menjadi angin segar bagi produsen dan konsumen. Sebab, ia memotong sebagian jalur. Mengurangi lapisan. Petani bertemu langsung dengan pembeli. Lebih sederhana. Lebih pendek.
Meredam Gejolak Harga Global
Lalu bagaimana jika tekanan datang dari luar?
Akhir-akhir ini warga dunia dibombardir dengan berita konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat bersekutu dengan Israel memerangi Iran.
Akibatnya, jalur perdagangan dunia yang melewati Selat Hormuz ditutup. Tak lama kemudian, harga minyak dunia melonjak. Biaya transportasi ikut terdorong.
Disinilah titik kritisnya, apalagi dalam sistem yang bergantung pada distribusi jarak jauh, efeknya cepat menjalar. Dan bisa saja harga pangan ikut terdorong naik sebagai second round effect dari kenaikan harga minyak.
Nilai tukar rupiah juga berperan. Ketika melemah, biaya pupuk dan input pertanian ikut meningkat. Apalagi, sebagian bahan baku masih ketergantungan pada impor. Tekanan dari sisi produksi pun ikut bertambah.
Gabungan keduanya itulah yang akan memicu imported inflation. Tekanan yang datang dari luar, tetapi dirasakan di dalam negeri.
Dalam situasi seperti ini, efisiensi distribusi menjadi semacam penyangga. Semakin pendek jalur pasokan, semakin kecil ruang bagi biaya tambahan untuk diteruskan ke harga akhir.
Pepatah lama mengingatkan, “singkat minta ulas, panjang minta kerat”.
Barangkali ini bukan sekadar ungkapan. Memangkas jarak antara ladang dan meja makan bukan hanya soal teknis distribusi. Ada upaya menjaga keseimbangan di sana-sini.
Ketika rantai pasokan dibuat lebih ringkas, langkah ekonomi terasa lebih ringan. Tidak selalu terlihat besar, tapi terasa. Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatan kebijakan yang sering luput kita perhatikan.(*)
(TribunnewsSultra.com)