Selasa, 26 Mei 2026

OPINI

OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach

Meski berbeda secara doktrinal, mereka berlabuh pada satu muara yang sama: Keadilan sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach
Istimewa/Dokumentasi TribunnewsSultra.com
PENULIS OPINI - Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial di Baubau/Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Penulis Opini Teologi Pembebasan: Dari Gutierrez hingga Haji Misbach yang dikirimkan pada redaksi TribunnewsSultra.com, Senin (16/3/2026). 

Gutierrez berhasil menarik wajah Gereja Katolik dari episentrum kekuasaan menuju "pinggiran".

Hassan Hanafi: Oksidentalisme dan Kiri Islam

Hassan Hanafi, salah satu pemikir kontemporer asal Mesir paling berpengaruh yang menggagas "Kiri Islam" (Al-Yasar al-Islami) untuk merekonstruksi teologi tradisional (Kalam).

Ia menggeser fokus dari diskusi abstrak tentang esensi Tuhan (teosentris) menuju praksis kemanusiaan di bumi (antroposentris).

Melalui proyek Al-Turats wa al-Tajdid, Hanafi memfungsikan agama sebagai instrumen emansipasi.

Baca juga: OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?

Ia menafsirkan Asma al-Husna bukan sekadar nama Tuhan, melainkan nilai perjuangan; misalnya, Al-Adl (Keadilan) adalah mandat profetik bagi manusia untuk meruntuhkan kesenjangan sosial.

Struktur teologi pembebasannya bertumpu pada tiga dimensi responsif.

Pertama, revitalisasi Turats dengan menafsir ulang warisan Islam agar menjadi energi pembebasan, bukan sekadar romantisme usang.

Kedua, melalui metode Oksidentalisme, ia mengajak untuk memposisikan Barat sebagai objek studi kritis guna memutus rantai imperialisme budaya.

Ketiga, teologi harus berangkat dari analisis realitas yang menjadikan kemiskinan dan penindasan politik sebagai titik tolak berteologi, bukan sekadar teks klasik.

Bagi Hanafi, Tauhid adalah deklarasi pembebasan. Mengesakan Tuhan berarti meniadakan segala "tuhan-tuhan" duniawi—baik itu diktator, sistem kapitalisme yang menghisap, maupun imperialisme.

Menurutnya inti dari pesan agama adalah pembelaan terhadap kaum mustadh'afin. Hanafi menekankan bahwa wahyu diturunkan dalam konteks sejarah; karena itu kebenaran agama harus diuji melalui kemampuannya menyelesaikan persoalan kemanusiaan.

Jika sebuah penafsiran agama justru melegitimasi penindasan, maka penafsiran tersebut harus ditolak dan didekonstruksi.

Baca juga: OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat

Ali Syariati: Revolusi dan Spiritualitas Karbala

Ali Syari'ati adalah intelektual revolusioner yang brilian mengawinkan sosiologi Barat dengan teologi Syiah.

Baginya, agama yang benar adalah agama yang mampu menggerakkan massa untuk merdeka.

Syari'ati memaknai Tauhid sebagai worldview yang anti-diskriminasi. Keesaan Tuhan adalah basis kesetaraan manusia; maka segala bentuk penghambaan—baik ekonomi, politik, maupun ras—adalah pengkhianatan terhadap Tauhid.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved