Rabu, 20 Mei 2026

OPINI

OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat

Tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini seharusnya mengguncang kesadaran kita sebagai bangsa.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat
Istimewa
PENULIS OPINI: Alumnuns Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan Akal Sehat di Tenggara Reading House, Akbar Pelayati. Penulis Opini berjudul Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat. 

Oleh: Akbar Pelayati 

Alumnuns Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan Akal Sehat di Tenggara Reading House 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini seharusnya mengguncang kesadaran kita sebagai bangsa.

Seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya, diduga karena tekanan akibat tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah, termasuk buku dan pulpen.

Di usia ketika seorang anak seharusnya dipenuhi mimpi dan harapan, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit: pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan, justru terasa sebagai beban yang terlalu berat.

Buku dan pulpen adalah simbol paling dasar dari pendidikan. Ia bukan barang mewah. Ia adalah alat untuk belajar, untuk memahami dunia, dan untuk membangun masa depan.

Namun bagi sebagian anak di negeri ini, benda sederhana itu masih menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.

Bukan karena mereka tidak ingin belajar, tetapi karena kemiskinan telah membatasi akses mereka terhadap hak yang seharusnya dijamin oleh negara.

Konstitusi Indonesia melalui Pasal 31 UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan negara wajib membiayainya.

Baca juga: OPINI: Citizen Science Sebagai Cara Lain dalam Mencari Solusi Terkait Isu Lingkungan

Bahkan, negara telah mengalokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan.

Selain itu, berbagai program bantuan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) juga telah diluncurkan untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu.

Namun, tragedi ini menunjukkan bahwa keberadaan kebijakan saja tidak cukup. Persoalan terbesar sering kali terletak pada implementasi dan ketepatan sasaran.

Masih ada anak-anak yang tidak terjangkau oleh sistem perlindungan sosial. Masih ada keluarga yang tidak terdata dengan baik.

Dan masih ada sekolah yang belum sepenuhnya memiliki sensitivitas sosial terhadap kondisi siswa yang paling rentan.

Kemiskinan tidak hanya berdampak secara material, tetapi juga secara psikologis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved