OPINI
OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach
Meski berbeda secara doktrinal, mereka berlabuh pada satu muara yang sama: Keadilan sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Zainal-Arifin-Ryha-menuliskan-Opini-Teologi-Pembebasan-Dari-Gutierrez-hingga-Haji-Misbach.jpg)
Ia membagi agama dalam dua wajah yakni agama institusi yang menjadi "obat penenang" bagi rakyat agar patuh pada penguasa, dan agama kesadaran yang membangkitkan keberanian melawan tirani.
Ia menegaskan bahwa dalam Al-Qur'an, posisi al-Nas (rakyat) sejajar dengan Allah dalam konteks tanggung jawab sosial. Rakyat adalah aktor utama penggerak sejarah.
Pencapaian terbesarnya adalah mengubah duka Karbala yang pasif menjadi energi revolusioner yang meledak.
Dengan semboyan "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala," Syari'ati menekankan bahwa seorang Muslim harus selalu dalam posisi siap melawan penindasan.
Karbala bukan lagi sekadar tangisan sejarah, melainkan simbol kemenangan moral di atas superioritas militer.
Baca juga: Data Kemiskinan di Sulawesi Tenggara, 5 Kabupaten Berpenduduk Miskin Terbanyak, Persentase Tertinggi
Haji Misbach: "Haji Merah" dari Surakarta
Haji Mohammad Misbach adalah anomali dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Sebagai tokoh penting Syarikat Islam (Merah), ia secara radikal menyintesiskan dua kutub yang sering dianggap mustahil bertemu: Islam dan Komunisme.
Berbeda dengan tokoh lain yang lebih filosofis, teologi Misbach adalah teologi lapangan; teologi aksi yang dibungkus dengan slogan-slogan perlawanan terhadap kolonialisme.
Bagi Misbach, esensi Islam adalah keadilan sosial. Ia mengecam sikap pasif-fatalistik para ulama tradisional yang dianggapnya terkesan "menjual diri" pada kolonial.
Gagasannya yang paling provokatif adalah memposisikan tubuh teoretis dari komunisme sebagai alat efektif untuk mewujudkan cita-cita sosial Islam: menghapus eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l'homme par l'homme).
Ia melihat sinkronisasi antara nilai keadilan Islam dengan perjuangan kelas Marxisme.
Misbach tak segan menjuluki muslim yang bungkam terhadap kapitalisme sebagai "muslim palsu."
Baginya, kapitalisme adalah "setan" nyata yang menghisap darah rakyat. Kemiskinan di Hindia Belanda bukanlah takdir, melainkan luaran (output) dari kejahatan sistemik kolonial.
Menariknya, gagasan Misbach pada dekade 1930-an ini mendahului fondasi Teologi Pembebasan yang baru populer di Amerika Latin empat dekade setelahnya.
Penutup: Ibadah Tertinggi
Keempat tokoh ini adalah bukti hidup bahwa teologi pembebasan adalah gerakan yang menghidupkan iman melalui perlawanan.