OPINI
OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach
Meski berbeda secara doktrinal, mereka berlabuh pada satu muara yang sama: Keadilan sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Zainal-Arifin-Ryha-menuliskan-Opini-Teologi-Pembebasan-Dari-Gutierrez-hingga-Haji-Misbach.jpg)
Oleh: Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial di Baubau/Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang, menuliskan Opini yang dikirimkan pada redaksi TribunnewsSultra.com, Senin (16/3/2026).
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Dalam anatomi pemikiran global, agama kerap dituding sebagai "candu"—sebuah eskapisme yang melumpuhkan kesadaran massa untuk menggugat struktur sosial yang opresif.
Namun, di tangan para pemikir revolusioner, agama justru bermutasi menjadi "senjata" pamungkas bagi kaum tertindas (the oppressed). Inilah yang disebut Teologi Pembebasan.
Meski berpijak pada lanskap iman dan latar geografi yang berbeda, Gustavo Gutierrez, Hassan Hanafi, Ali Syariati, dan Haji Misbach disatukan oleh satu visi radikal: Tuhan tidak hanya bersemayam di Arsy yang jauh, tetapi hadir dalam deru perut yang lapar dan pedih punggung yang dicambuk.
Gutierrez: Suara Kaum Miskin Amerika Latin
Melalui mahakaryanya, A Theology of Liberation (1971), Gustavo Gutierrez—seorang pastor asal Peru—mendobrak ortodoksi Katolik.
Ia memangkas doktrin-doktrin gereja yang dinilai tidak bersimpati kepada orang miskin dan kaum tertindas.
Baca juga: OPINI Respon Konflik AS & Israel Vs Iran: Memperkuat Stabilitas Sistem Keuangan Domestik
Bagi Gutierrez, teologi bukanlah menara gading akademis, melainkan respons iman yang bergetar terhadap realitas kemiskinan di Amerika Latin.
Ia menggeser diskursus dari sekadar "bagaimana membicarakan Tuhan" menjadi "bagaimana mewartakan Tuhan di tengah penderitaan orang miskin dan tertindas."
Dengan pilar Preferential Option for the Poor, Gutierrez menegaskan bahwa Tuhan tidak netral; Tuhan secara eksplisit memihak mereka yang terpinggirkan.
Ini bukan karena benci terhadap si kaya, melainkan pembelaan teologis terhadap mereka yang dirampas hak-haknya.
Gereja pun ditantang untuk melebur dengan nasib kaum miskin sebagai manifestasi konkret kasih Ilahi.
Ia mereformulasi makna "keselamatan" (salvation). Keselamatan tidak boleh terpenjara dalam dimensi eskatologis semata, melainkan harus diejawantahkan di dunia.
Bagi Gutierrez, dosa tidak hanya bersifat individual seperti mencuri, melainkan "dosa struktural"—kebijakan sistemik yang memiskinkan petani dan melanggengkan ketidakadilan.
Baca juga: OPINI Sertifikasi Kompetensi: Jantung dari Visi Sulawesi Tenggara Maju dan Solusi Pengangguran
Maka, tugas Gereja adalah melakukan kritik profetik terhadap struktur yang tiran tersebut.
Ia mengubah teologi dari sekadar teks menjadi refleksi kritis atas praksis sejarah. Teologi tidak dimulai dari buku-buku teori, tapi dari keprihatinan sosial, lalu bergerak ke aksi (praksis), dan diakhiri dengan refleksi di hadapan Tuhan.