OPINI
OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?
Wacana pembangunan bandara di Kabupaten Kolaka Utara bukan sekadar perbincangan teknis soal landasan pacu, terminal, atau rute penerbangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Akbar-Pelayati.jpg)
Dalam perspektif jangka panjang, bandara dapat menjadi instrumen pemerataan pembangunan.
Selama ini, pertumbuhan ekonomi sering terpusat di kota-kota besar.
Dengan konektivitas udara, daerah seperti Kolaka Utara memiliki peluang lebih besar untuk mengambil peran dalam rantai ekonomi nasional.
Namun peluang hanya akan menjadi kenyataan jika diiringi kesiapan sumber daya manusia.
Pendidikan, pelatihan, dan penguatan kapasitas lokal harus menjadi bagian dari paket kebijakan.
Kita juga perlu bertanya: apa visi besar Kolaka Utara dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan?
Apakah daerah ini ingin menjadi pusat industri berbasis sumber daya alam? Atau mengembangkan sektor pariwisata pesisir dan bahari? Atau menjadi simpul logistik kawasan?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah bandara menjadi kebutuhan strategis atau sekadar simbol ambisi.
Dalam diskursus publik, kerap muncul nada skeptis terhadap proyek-proyek besar yang tertunda atau tidak optimal.
Skeptisisme adalah hal wajar dalam demokrasi.
Namun sikap kritis harus dibarengi dengan pemikiran konstruktif.
Alih-alih hanya mempertanyakan, masyarakat juga dapat mendorong perencanaan yang lebih matang dan partisipatif.
Bandara bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia adalah simbol arah.
Jika dirancang dengan visi jangka panjang, dikelola secara profesional, dan diawasi secara transparan, ia dapat menjadi titik balik sejarah pembangunan Kolaka Utara.
Sebaliknya, tanpa perencanaan terpadu dan komitmen bersama, ia bisa menjadi catatan yang disesali.
Masa depan Kolaka Utara tidak ditentukan oleh satu proyek semata, tetapi oleh keberanian mengambil keputusan yang tepat dan konsisten.
Bandara hanyalah salah satu instrumen.
Yang lebih penting adalah kesadaran kolektif bahwa pembangunan harus berorientasi pada kesejahteraan, keberlanjutan, dan keadilan sosial.
Kolaka Utara memiliki potensi, memiliki sumber daya, dan memiliki generasi muda yang penuh harapan.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam: apakah kita siap menjadikan konektivitas sebagai jembatan menuju lompatan kemajuan, atau tetap berjalan di tempat?
Jawaban itu ada pada kebijakan yang bijak, tata kelola yang bersih, dan partisipasi publik yang aktif.
Jika semua unsur berjalan seiring, bandara bukan lagi sekadar wacana, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih terbuka. (*)
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
(TribunnewsSultra.com)
| OPINI: Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman |
|
|---|
| OPINI: Krisis Akses Kerja bagi Fresh Graduate, Tanggung Jawab Siapa? |
|
|---|
| OPINI: Revolusi Pendidikan atau Sekadar Ganti Nama? Kritik Kurikulum Baru dan Pembelajaran Mendalam |
|
|---|
| OPINI: Bayang Ridwan Bae di Pertarungan Herry Asiku Melawan La Ode Darwin |
|
|---|
| OPINI Pancasila Tanpa Teladan dari Penguasa: Refleksi Peringatan Hari Kesaktian Pancasila |
|
|---|