OPINI
OPINI: Revolusi Pendidikan atau Sekadar Ganti Nama? Kritik Kurikulum Baru dan Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran mendalam yang digaungkan Kemdikdasmen menjanjikan transformasi dari pembelajaran yang bersifat hafalan dan permukaan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/new-kurikulum-baru-kendari-opini.jpg)
Oleh : Salim
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Perubahan kurikulum di Indonesia selalu menjadi topik yang menuai pro dan kontra. Setiap pergantian era kepemimpinan pendidikan, muncul kurikulum baru dengan janji-janji perubahan revolusioner.
Kali ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) menggaungkan konsep pembelajaran mendalam, sebagai pendekatan utama dalam transformasi pendidikan.
Namun, pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah ini benar-benar revolusi pendidikan yang membawa perubahan substansial, atau hanya sekadar pergantian nama dengan retorika baru yang minim implementasi?
Pembelajaran mendalam yang digaungkan Kemdikdasmen menjanjikan transformasi dari pembelajaran yang bersifat hafalan dan permukaan menjadi pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep mendalam, berpikir kritis, dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata.
Baca juga: OPINI: Bayang Ridwan Bae di Pertarungan Herry Asiku Melawan La Ode Darwin
Konsep ini sebenarnya sangat ideal dan sejalan dengan kebutuhan pendidikan abad 21. Siswa tidak lagi diarahkan menghafal fakta-fakta lepas, tetapi didorong untuk memahami keterkaitan antar konsep, menganalisis masalah secara kritis, dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang kompleks.
Namun, seperti konsep-konsep pendidikan sebelumnya yang terdengar indah di atas kertas, implementasi pembelajaran mendalam menghadapi berbagai tantangan fundamental yang mempertanyakan keseriusan komitmen pemerintah dalam merealisasikannya.
Salah satu kritik paling mendasar adalah bahwa pembelajaran mendalam bukanlah konsep baru dalam dunia pendidikan. Konsep ini sudah lama dikenal dalam literatur pendidikan dengan istilah deep learning yang dikontraskan dengan surface learning.
Pertanyaannya kemudian, apa yang membedakan pendekatan pembelajaran mendalam versi Kemdikdasmen dengan konsep-konsep serupa yang sudah digaungkan dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya?
Bukankah Kurikulum 2013 juga sudah menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, berpikir tingkat tinggi, dan pendekatan saintifik?. Bukankah KTSP sebelumnya juga sudah mendorong pembelajaran kontekstual?.
Tanpa penjelasan yang gamblang tentang perbedaan substansial, pembelajaran mendalam berisiko menjadi sekadar jargon baru yang menggantikan jargon lama. Pola berulang ganti menteri ganti kurikulum kembali terulang.
Dari Kurikulum 1994, KBK 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, hingga kini dengan penekanan pada pembelajaran mendalam, setiap transisi memakan waktu, energi, dan biaya yang tidak sedikit.
Ironisnya, guru dan siswa sebagai pelaku utama pendidikan seringkali menjadi korban kebingungan akibat perubahan yang terlalu cepat.
Guru baru saja mulai memahami dan mengimplementasikan pendekatan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, tiba-tiba harus menyesuaikan dengan narasi baru tentang pembelajaran mendalam.