Senin, 18 Mei 2026

OPINI

OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?

Wacana pembangunan bandara di Kabupaten Kolaka Utara bukan sekadar perbincangan teknis soal landasan pacu, terminal, atau rute penerbangan.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?
Istimewa
PENULIS OPINI - Alumnus Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan di Tenggara Reading House, Akbar Pelayati. Ia menulis opini Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah? 

Oleh: Akbar Pelayati 

Alumnus Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan di Tenggara Reading House

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Wacana pembangunan bandara di Kabupaten Kolaka Utara bukan sekadar perbincangan teknis soal landasan pacu, terminal, atau rute penerbangan.

Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana arah pembangunan daerah ini hendak dibawa?

Di tengah perubahan ekonomi regional dan nasional yang bergerak cepat, konektivitas bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan.

Kolaka Utara memiliki potensi yang tidak kecil.

Sumber daya alam melimpah, sektor pertambangan berkembang, perkebunan produktif, serta potensi kelautan dan perikanan yang strategis.

Secara geografis, daerah ini berada pada jalur penting di kawasan utara Sulawesi Tenggara.

Namun satu hal yang sering menjadi hambatan adalah aksesibilitas.

Baca juga: OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat

Mobilitas menuju pusat pertumbuhan seperti Kendari maupun Makassar masih memerlukan perjalanan darat dan laut yang relatif panjang.

Dalam dunia bisnis dan investasi, waktu adalah biaya.

Bandara, dalam konteks pembangunan modern, berfungsi sebagai simpul pertumbuhan (growth pole).

Kehadirannya mampu mengubah persepsi geografis: yang jauh menjadi dekat, yang sulit dijangkau menjadi strategis.

Investor yang sebelumnya ragu karena akses terbatas, dapat mempertimbangkan ulang keputusan mereka.

Arus barang dan manusia menjadi lebih cepat, lebih efisien, dan lebih kompetitif.

Efek berganda (multiplier effect) dari infrastruktur udara bukan teori kosong.

Baca juga: OPINI - Penilai Publik: Profesi Terhormat yang Kini Berada di Ambang Penjara

Di berbagai daerah, kehadiran bandara memicu pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, perdagangan, hingga properti.

UMKM mendapat peluang lebih luas karena arus kunjungan meningkat.

Produk lokal bisa dipasarkan ke luar daerah dengan lebih cepat.

Mobilitas tenaga kerja menjadi fleksibel.

Secara ekonomi, bandara berpotensi menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung.

Namun optimisme harus diiringi kehati-hatian.

Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa bandara tidak otomatis menjadi mesin pertumbuhan tanpa perencanaan terpadu.

Baca juga: OPINI: Pemuda Merdeka, Sultra Aman, Sejahtera dan Religius

Awal pengoperasian Bandara Kertajati, misalnya, sempat menghadapi tantangan karena kurangnya integrasi transportasi darat dan minimnya rute penerbangan.

Sebaliknya, pengembangan kawasan sekitar Bandara Silangit relatif lebih progresif karena didukung strategi pengembangan pariwisata Danau Toba secara nasional.

Pelajaran ini penting bagi Kolaka Utara.

Bandara tidak boleh berdiri sebagai proyek terpisah.

Ia harus terhubung dengan rencana tata ruang wilayah, pengembangan kawasan industri, sentra perdagangan, dan destinasi wisata.

Tanpa konektivitas jalan yang memadai, tanpa insentif bagi maskapai, tanpa strategi promosi investasi, bandara berisiko menjadi infrastruktur yang tidak optimal.

Selain aspek ekonomi, dampak sosial juga perlu diperhitungkan.

Bandara meningkatkan mobilitas masyarakat.

Anak muda yang ingin melanjutkan pendidikan atau bekerja ke luar daerah dapat bepergian dengan lebih mudah.

Hubungan antardaerah semakin terbuka. Pertukaran budaya terjadi lebih intensif.

Namun di sisi lain, percepatan urbanisasi dan perubahan gaya hidup juga mungkin muncul.

Kenaikan harga lahan dan biaya hidup bisa terjadi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal.

Isu lingkungan juga tak kalah penting.

Pembangunan bandara memerlukan lahan luas dan berpotensi mengubah struktur ekosistem.

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) harus dilakukan secara serius dan transparan.

Lahan pertanian produktif, kawasan pesisir, serta sumber air harus dilindungi.

Pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan demi ambisi jangka pendek.

Tak kalah krusial adalah soal tata kelola.

Proyek infrastruktur berskala besar membutuhkan anggaran signifikan dan pengawasan ketat.

Publik berhak mengetahui perencanaan, penggunaan anggaran, serta progres pembangunan.

Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi fondasi kepercayaan masyarakat.

Tanpa akuntabilitas, proyek sebesar apa pun akan selalu menyisakan kecurigaan.

Dalam perspektif jangka panjang, bandara dapat menjadi instrumen pemerataan pembangunan.

Selama ini, pertumbuhan ekonomi sering terpusat di kota-kota besar.

Dengan konektivitas udara, daerah seperti Kolaka Utara memiliki peluang lebih besar untuk mengambil peran dalam rantai ekonomi nasional.

Namun peluang hanya akan menjadi kenyataan jika diiringi kesiapan sumber daya manusia.

Pendidikan, pelatihan, dan penguatan kapasitas lokal harus menjadi bagian dari paket kebijakan.

Kita juga perlu bertanya: apa visi besar Kolaka Utara dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan?

Apakah daerah ini ingin menjadi pusat industri berbasis sumber daya alam? Atau mengembangkan sektor pariwisata pesisir dan bahari? Atau menjadi simpul logistik kawasan?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah bandara menjadi kebutuhan strategis atau sekadar simbol ambisi.

Dalam diskursus publik, kerap muncul nada skeptis terhadap proyek-proyek besar yang tertunda atau tidak optimal.

Skeptisisme adalah hal wajar dalam demokrasi.

Namun sikap kritis harus dibarengi dengan pemikiran konstruktif.

Alih-alih hanya mempertanyakan, masyarakat juga dapat mendorong perencanaan yang lebih matang dan partisipatif.

Bandara bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia adalah simbol arah.

Jika dirancang dengan visi jangka panjang, dikelola secara profesional, dan diawasi secara transparan, ia dapat menjadi titik balik sejarah pembangunan Kolaka Utara.

Sebaliknya, tanpa perencanaan terpadu dan komitmen bersama, ia bisa menjadi catatan yang disesali.

Masa depan Kolaka Utara tidak ditentukan oleh satu proyek semata, tetapi oleh keberanian mengambil keputusan yang tepat dan konsisten.

Bandara hanyalah salah satu instrumen.

Yang lebih penting adalah kesadaran kolektif bahwa pembangunan harus berorientasi pada kesejahteraan, keberlanjutan, dan keadilan sosial.

Kolaka Utara memiliki potensi, memiliki sumber daya, dan memiliki generasi muda yang penuh harapan.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam: apakah kita siap menjadikan konektivitas sebagai jembatan menuju lompatan kemajuan, atau tetap berjalan di tempat?

Jawaban itu ada pada kebijakan yang bijak, tata kelola yang bersih, dan partisipasi publik yang aktif.

Jika semua unsur berjalan seiring, bandara bukan lagi sekadar wacana, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih terbuka. (*)

‎"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

(TribunnewsSultra.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved