Pasutri 16 Anak di Kolut
Rekorkah? Tuan Guru Kama-Nyonya Najrah; Pasangan dengan 16 Anak dari Pelosok Tenggara Sulawesi
Di Bulan Ramadan atau saat 16 anak berkumpul, sehari keluarga ini menanak 10 liter beras, 3 kg ikan dan lauk
Apakah pasangan Kamaruddn dan Ustadzah Najrah akan melahirkan anak lagi?
“Biarlah Allah SWT yang mengatur, kita hanya menjalani hidup ini. Toh ini adalah takdir kami, diamanahkan memeliharah 16 anak, yang alhamdulillah sehat, patuh dan taat menjalankan ibadah.” ujar pria yang di Katoi dan Pangkep, akrab disapa Tuan Guru Kama.

Sapaan ‘Tuan Guru’, bukanlah permintaannya.
Karena aktif juga berdakwah dan istrinya aktif membina majelis taklim ibu-ibu kampung, Kamaruddin akrab disapa Tuan Guru Kama'.
Apalagi dalam dua dekade terakhir, Kama ikut merintis pesantren dan sekolah Islam terpadu di ibukota provinsi.
"Sapaan Tuan Guru Kama itu melekat, karena selain dia guru, ustad, Kama juga sering jadi tempat konsultasi spiritual dan kehidupan warga kampung," kata Abdul Gaffar Said (50), adik Kama di Tumampua, Pangkajene, Pangkep, Sulsel.
Kisah "keperkasaan" Tuan Guru Kama dan "ketabahan dan kegigihan" Ibu Najerah Kama, sejak sedekade ini, jadi buah bibir di kampung halamannya.
Pasalnya, saat itu Tuan Guru Kama' mudik Lebaran tahun 2019 lalu, dia membawa 16 anak, istri dan 1 anak menantunya ke Pangkep dan Camba, Maros.
Mereka mendaki gunung dan menyeberangi laut, sejauh sekitar 620 km untuk mudik lebaran sebelum Wabah Corona.
"Kalau tidak salah ingat, mereka menumpang 3 mobil avansa dan cayla dari tenggara ke selatan," ujar Gaffar, adik Kama.
Kisah itu kian menakjubkan sebab dari 16 anak pasangan keluarga ini, enam diantaranya adalah hafidz dan hafidzah Alquran.
Bahkan 12 anaknya kini tercatat jadi santri dan santriwati pada sebuah pesantren dan sekolah Islam terpadu di kawasan Baruga, Kota Kendari.
"Alhamdulillah, semua anak kami ikhlas dan bersedia mondok. Itu yang membuat hidup ini lebih berberkah," ujar Kamaruddin, yang juga sarjana pendidikan dari Universitas Halouleo, Kendari ini.
Tuan Guru Kama terangkat jadi guru SD negeri di Kolaka Utara, dengan bekal ijazah dan akta guru dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pangkep tahun 1987 silam.
Sedangkan istrinya, Najrah adalah santriwati alumnus Pondok Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Maros tahun 1993.
Kedua pasangan ini bertemu di pondok pesantren rintisan mendiang, KH Ahmad Marzuki Hasan ini.

Rekor Anak Terbanyak
Pasangan Tuan Guru Kama dan Ustadzah Najrah sejauh ini belum menyatakan lelah megasuh anak.
Ke-16 anak yang mereka lahirkan, pelihara, dan didik, baginya adalah rezeki dan amanah dari Allah SWT.
Apakah Tuan Guru merasa, Anda dan Ustadzah Najrah pemegang rekor anak terbanyak, berpasang-pasangan, dan 14 diantaranya lahir di rumah panggung?
“Wallahua’lam. Saya pernah dengar ada punya 15 anak di Sumatera, di Malang ada 11 anak,” ujar Tuan Guru Kama, menjawab pertanyaan Tribun.
Kamaruddin mengaku karunia 16 anak dan satu cucu, adalah amanah dan takdir dari Allah SWT.
“Kami mengalir saja seperti air di sungai jernih. Banyak suka dukanya, misalnya kalau berkumpul di Bulan Ramadhan, kami sediakan 10 liter beras sehari, dan ikan sampai 5 kg. Tapi rezeki Allah itu kan luas, ada saja dan selalu kami syukuri.”
Dalam penelusuran Tribun, tahun 2020 lalu, pasangan Mulyono (46) dan Partina (45) warga Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jatim tercatat punya 15 anak.
Di selatan Sumatera, tepatnya di Desa Peninggiran, Kecamatan Tiga Dihaji, Kabupaten Oku Selatan,
sepasang suami dan istri memiliki 11 anak di tahun 2021 lalu.
Hingga tahun 2022 ini, pasangan dari Inggris, Sue Radford (45) dan Noel Radford (50) dikaruniai 22 anak.
Merujuk Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2017, angka rerata melahiran seorang ibu Indonesia (TFR) adalah 2,4 anak selama hidupnya.
Di dekade 2000-an, TFR Indonesia 2,7 atau mendekati tiga anak.
Jumlah anak dalam satu keluarga di Indonesia
Berdasarkan SDKI 2017 juga terungkap, daerah dengan angka TFR tertinggi ialah Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni 3,4 anak per perempuan. Angkat itu disusul Provinsi Papua dan Maluku dengan 3,3 anak per perempuan. (*/thamzil thahir)