Pasutri 16 Anak di Kolut
Rekorkah? Tuan Guru Kama-Nyonya Najrah; Pasangan dengan 16 Anak dari Pelosok Tenggara Sulawesi
Di Bulan Ramadan atau saat 16 anak berkumpul, sehari keluarga ini menanak 10 liter beras, 3 kg ikan dan lauk
Kedua putri pertama ini lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pangkep, Sulsel, tahun 1997 dan 1998.
Anak pertama mereka lahir bersamaan dengan puncak krisis moneter dan orde reformasi melanda negeri.
Bersamaan dengan itu, Kamaruddin terangkat jadi guru PNS di Lasusua, saat Kolaka Utara baru dimekarkan jadi daerah otonomi baru di Sulawesi Tenggara.
Akumulasi krisis moneter, minimnya fasilitas dan layanan medis di pedalaman Teluk Bone itu, mereka berempat ‘merantau” ke tenggara.
Baru empat bulan di Katoi, sekitar 20 km dari Lasusua, ibu kota baru Kolaka Utara, Najerah hamil dan melahirkan anak ketiganya.
“Doa kami diterima, (Muhammad) Mufassir lahir tahun 1999, dan kini sudah 23 tahun dan akhir kuliah di Kendari,” katanya.
Secara beruntut tiga putri dan satu putra lahir dalam periode 4 tahun; Rizky Amaliah (2000), Sitti Atiyya (2001) dan Ainul Mardhiyah (2002) dan Abdullah Azzam (2003).
Najerah “istirahat” dan tak melahirkan di tahun 2004.
Anak kedelapan, Abdurrahman An Nawawi (16), baru lahir tahun 2005.
Lalu berturut-turut lagi dalam 24 bulan (2006 dan 2007), lahir sepasang putra dan putri untuk anak ke-9 dan ke-10.
Anak ke-9, Abdurrahim As Sayuti tahun 2022 ini sudah duduk di bangku kelas 1 SMA Islam bersama Khalisatul Fikriah (14 tahun) yang kini duduk di bangku kelas III madrasah tsanawiyah.
Dalam tiga tahun, 2009 hingga 2011, pasangan ini kembali dianugerahi dua putra (Muhammad Ainur Rafiq (12 tahun) dan Fakhrul Islam, 11 tahun) serta seorang putri, Rifyatul Azizah (10 tahun).
Tiga anak terakhir mereka, juga lahir berturut-turut
Nazirah Syauqiyatul Jannah (2013), Auliyaa Rahman (2014) dan Zayyan Aqif Rahmani (2015).
“Yang bontot kini sudah kelas 2 SD di Katoi.Sama kakaknya mereka adalah murid generasi pandemi corona.”