Minggu, 7 Juni 2026

OPINI

OPINI: Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah

Opini yang ditulis Zainal Arifin Ryha tentang Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah
dokumentasi pribadi
PENULIS OPINI - Foto arsip Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Ia menuliskan opini terkait Menakar Hakikat Manusia Antara Ruh dan Tanah yang dikirimkan ke redaksi TribunnewsSultra.com, pada Minggu (7/6/2026). 

Tanah adalah simbol dari kedangkalan, kelembapan, dan keterikatan pada bumi (gravitasi material). Unsur tanah dalam diri manusia memicu dorongan-dorongan yang sifatnya fisikal dan biologis belaka: makan, minum, tidur, dan pemuasan hasrat seksual. 

Ketika manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada gravitasi "unsur tanah", ia akan turun kelas menjadi sekadar binatang mekanis (asfala safilin). Hidupnya hanya berputar pada lingkaran konsumsi dan reproduksi. 

Seribu bukti kejahatan sejarah—seperti perang karena perebutan wilayah atau eksploitasi ekonomi—akar masalahnya adalah ketika manusia dikendalikan secara mutlak oleh nafsu tanah yang serakah dan tak pernah kenyang.

Sebaliknya, Ruh adalah tiupan langsung dari Yang Maha Suci (sentrifugal transendensi). Unsur ruh inilah yang mengorientasikan manusia pada nilai-nilai yang luhur, suci, estetis, dan transenden (melampaui batas fisik). 

Ruh mendorong manusia untuk mencari kebenaran, menegakkan keadilan, mencintai sesama, dan memuja Keindahan Mutlak (Tuhan). Ketika unsur ruh ini dominan, manusia mampu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal secara kalkulasi biologis: menolong orang asing di tengah bahaya, memaafkan musuh, atau membagikan makanannya saat ia sendiri kelaparan.

Memanusia adalah "Proses"

Melalui kacamata Ali Syariati, kita memahami bahwa manusia bukanlah produk jadi yang statis. Manusia adalah sebuah proses menjadi (becoming). Kita adalah medan perang abadi antara tarikan gravitasi tanah yang rendah dan dorongan rindu ruh yang membubung tinggi.

Mengapa sejarah mencatat seribu kejahatan sekaligus seribu kebaikan? Karena sejarah adalah cermin raksasa dari fluktuasi pilihan-pilihan bebas manusia

Manusia menyejarah bukan karena mereka "dasarnya baik" atau "dasarnya jahat", melainkan karena mereka memiliki kebebasan untuk memilih menjadi lebih rendah dari binatang saat takluk pada tanah atau naik derajat melampaui malaikat saat setia pada ruh.

Esensi kemanusiaan kita tidak ditentukan oleh asal-usul biologis kita, melainkan oleh ke arah mana kompas kehendak bebas kita orientasikan: tenggelam dalam lumpur tanah, atau terbang menuju kesucian ruh.

(*)

(TribunnewsSultra.com)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved