OPINI
OPINI Budidaya Bawang Merah: Ketika Tanah Berbatu Membalikkan Jalan Buntu
Potensi pengembangan klaster bawang merah di Muna membuka peluang perubahan lebih besar: membalikkan struktur pasokan dari konsumsi menjadi produksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Rabiul-Misa-penulis-opini-Budidaya-Bawang-Merah-Ketika-Tanah-Berbatu-Membalikkan-Jalan-Buntu.jpg)
Pendekatan ini sejalan dengan strategi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan kerangka 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Ketika produksi lokal meningkat, pasokan menjadi lebih stabil dan rantai distribusi dapat dipersingkat. Kombinasi ini membantu menekan biaya logistik sekaligus menjaga keterjangkauan harga.
Dengan demikian, pengembangan klaster bawang merah tidak hanya memperkuat sektor pertanian, tetapi juga perlahan membalikkan struktur pasar.
Saat ladang-ladang produksi tumbuh di tanah yang dulu dianggap keras, sesungguhnya yang berubah bukan hanya peta pertanian—melainkan arah ketahanan pangan daerah.
Menanam Harapan di Tanah Berbatu
Pada akhirnya, kisah budidaya bawang merah di Kabupaten Muna menyiratkan satu pelajaran penting: jalan buntu sering kali muncul bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum berani menempuh jalur memutar.
Terbukti lahan batu kapur yang selama ini dianggap keras dan tidak produktif mulai menunjukkan potensi sebagai ladang hortikultura baru.
Jika pengembangan klaster bawang merah dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin suatu hari Muna mampu menjadi salah satu penyangga pasokan bawang merah di Sulawesi Tenggara.
Dari daerah yang selama ini bergantung pada pasokan luar, Muna berpeluang membalikkan keadaan—menjadi bagian dari sumber produksi pangan regional.
Bagi masyarakat Muna, keyakinan ini sebenarnya telah lama hidup dalam ungkapan lokal: “Witeno Wuna, Wite Barakati.” Tanah Muna adalah tanah yang diberkahi.
Ungkapan ini bukan sekadar kebanggaan budaya, melainkan keyakinan bahwa tanah yang dijaga dan diolah dengan kesungguhan akan selalu memberi kehidupan.
Di tanah yang konon diyakini sebagai wite barakati, bahkan tanah berbatu pun dapat menjadi lumbung pangan—selama ada keberanian untuk menanam harapan.(*)