OPINI
OPINI: Antara Kucing Hitam-Putih: Menakar Ulang "Ideologi" Prabowo
Pemerintah justru dituntut untuk lebih "berani" (bahkan jika harus dicap otoriter) melalui instrumen hukum yang cepat seperti Perppu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Zainal-Arifin-Ryha_Opini.jpg)
Oleh: Zainal Arifin Ryha
Pemerhati Sosial di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Membaca ulasan Syahganda Nainggolan akhir-akhir ini memicu tanda tanya besar.
Ada inkonsistensi yang menganga dalam upayanya membedah "genetika politik" Presiden Prabowo Subianto.
Syahganda tampak terjebak dalam pelabelan yang secara akademis justru melemahkan argumennya sendiri.
Pada satu waktu, Syahganda melabeli Prabowo sebagai sosialis tulen demi menghormati warisan pemikiran ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo.
Namun, hanya dalam hitungan hari, ia berbalik memuja Prabowo sebagai pembawa panji kapitalisme dalam konotasi positif.
Ia mencoba meramu dikotomi ini dengan narasi "mengambil yang terbaik dari keduanya," namun tanpa penjelasan epistemologis yang kokoh.
Akibatnya, dalam rumusan Syahganda, posisi Prabowo menjadi kabur—seperti identitas yang kehilangan akar, bermutasi secara instan dari satu kutub ke kutub lainnya demi tuntutan panggung.
Baca juga: OPINI: Kasus Andrie Yunus: Menagih Janji Negara Melindungi HAM
Jadilah seperti waria di Karebosi: siang jadi "Tono" dan malam jadi "Tini".
Kekacauan berpikir ini sebenarnya cermin dari gejala global yang disebut workism.
Pasca Perang Dingin, runtuhnya komunisme melahirkan era "The End of Ideology" sebagaimana dirumuskan Daniel Bell.
Di sisi lain, memudarnya peran agama dalam ranah sosial (post-christianism) menciptakan kekosongan makna.
Akibatnya, muncullah "ideologi-ideologi" (dengan "i" kecil) yang mencoba mengisi ruang hampa tersebut—mulai dari gaya hidup hingga pola makan vegetarian yang dipuja layaknya keyakinan semi-religius.
Konstruksi berpikir inilah yang tampaknya menjangkiti sebagian intelektual kita, termasuk Syahganda.
| OPINI Sertifikasi Kompetensi: Jantung dari Visi Sulawesi Tenggara Maju dan Solusi Pengangguran |
|
|---|
| OPINI - Penilai Publik: Profesi Terhormat yang Kini Berada di Ambang Penjara |
|
|---|
| OPINI: Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman |
|
|---|
| OPINI: Daun Singkong, Harapan Baru Melawan Bakteri Berbahaya di Era Resistensi Antibiotik |
|
|---|
| OPINI: Esensi Otonomi Daerah |
|
|---|