Selasa, 26 Mei 2026

OPINI

OPINI: Antara Kucing Hitam-Putih: Menakar Ulang "Ideologi" Prabowo

Pemerintah justru dituntut untuk lebih "berani" (bahkan jika harus dicap otoriter) melalui instrumen hukum yang cepat seperti Perppu.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Antara Kucing Hitam-Putih: Menakar Ulang "Ideologi" Prabowo
Istimewa
PENULIS OPINI - Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Penulis Opini Antara Kucing Hitam-Putih: Menakar Ulang "Ideologi" Prabowo yang dikirimkan pada redaksi TribunnewsSultra.com, Jumat (27/3/2026). (Istimewa) 

Oleh: Zainal Arifin Ryha

Pemerhati Sosial di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Membaca ulasan Syahganda Nainggolan akhir-akhir ini memicu tanda tanya besar.

Ada inkonsistensi yang menganga dalam upayanya membedah "genetika politik" Presiden Prabowo Subianto.

Syahganda tampak terjebak dalam pelabelan yang secara akademis justru melemahkan argumennya sendiri.

Pada satu waktu, Syahganda melabeli Prabowo sebagai sosialis tulen demi menghormati warisan pemikiran ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo.

Namun, hanya dalam hitungan hari, ia berbalik memuja Prabowo sebagai pembawa panji kapitalisme dalam konotasi positif.

Ia mencoba meramu dikotomi ini dengan narasi "mengambil yang terbaik dari keduanya," namun tanpa penjelasan epistemologis yang kokoh. 

Akibatnya, dalam rumusan Syahganda, posisi Prabowo menjadi kabur—seperti identitas yang kehilangan akar, bermutasi secara instan dari satu kutub ke kutub lainnya demi tuntutan panggung.

Baca juga: OPINI: Kasus Andrie Yunus: Menagih Janji Negara Melindungi HAM

Jadilah seperti waria di Karebosi: siang jadi "Tono" dan malam jadi "Tini".

Kekacauan berpikir ini sebenarnya cermin dari gejala global yang disebut workism.

Pasca Perang Dingin, runtuhnya komunisme melahirkan era "The End of Ideology" sebagaimana dirumuskan Daniel Bell.

Di sisi lain, memudarnya peran agama dalam ranah sosial (post-christianism) menciptakan kekosongan makna. 

Akibatnya, muncullah "ideologi-ideologi" (dengan "i" kecil) yang mencoba mengisi ruang hampa tersebut—mulai dari gaya hidup hingga pola makan vegetarian yang dipuja layaknya keyakinan semi-religius. 

Konstruksi berpikir inilah yang tampaknya menjangkiti sebagian intelektual kita, termasuk Syahganda.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved