OPINI
OPINI: Daun Singkong, Harapan Baru Melawan Bakteri Berbahaya di Era Resistensi Antibiotik
ekstrak daun singkong bisa menjadi alternatif alami yang murah, aman, dan mudah dikembangkan untuk membantu mengatasi infeksi bakteri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Penelitian-Dosen-Mahasiswa-Universitas-Sembilanbelas-November-Kolaka-ekstrakdaun-singkong.jpg)
Oleh: Alfiah Alif, S.Si., M.Si
Dosen Kimia Universitas Sembilanbelas November Kolaka Sulawesi Tenggara (Sultra)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Lonjakan resistensi antibiotik menjadi ancaman serius, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.
Data WHO menyebutkan lebih dari 700.000 kematian tiap tahun akibat infeksi yang tak lagi mempan terhadap antibiotik konvensional, dan jumlah ini bisa melonjak menjadi 10 juta pada 2050 jika tidak ada inovasi nyata dalam penemuan obat baru.
Salah satu solusi yang kini mendapat sorotan adalah pemanfaatan bahan alam lokal. Hasil penelitian Alfiah Alif dan tim mahasiswa kimia (Erni Rosmawati dan Nafil) Universitas Sembilanbelas November Kolaka melalui pelaksanaan Penelitian Dosen Mahasiswa pada Desember 2025 menunjukkan daun singkong (Manihot esculenta), tanaman yang sangat akrab di Sulawesi Tenggara, ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai agen antibakteri.
Melalui analisis fitokimia, spektroskopi FTIR, dan GC-MS, kami berhasil mengidentifikasi kandungan senyawa bioaktif utama dalam ekstrak etanol daun singkong.
Senyawa seperti flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, hingga asam lemak (n-hexadecanoic acid dan oleic acid) terbukti berperan aktif dalam menghambat pertumbuhan bakteri.
Baca juga: Cara Buat Teh Herbal Daun Kelor Dibagikan PKMI UHO ke Warga Soropia Konawe Sulawesi Tenggara
Uji laboratorium menggunakan metode difusi cakram memperlihatkan hasil nyata:
- Terhadap bakteri Staphylococcus aureus (penyebab infeksi kulit dan saluran pernapasan), ekstrak daun singkong menunjukkan aktivitas antibakteri sedang.
- Terhadap Escherichia coli (bakteri penyebab diare dan infeksi saluran kemih), efeknya sangat kuat, dengan zona hambat mencapai 12,05 mm pada konsentrasi 300 mg/mL.
Temuan ini semakin memperkuat hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang sudah membuktikan efektivitas daun singkong sebagai antibakteri.
Bedanya, penelitian kami tidak hanya menguji secara sederhana apakah senyawa aktif itu ada atau tidak (uji kualitatif), namun dengan pendekatan yang lebih komprehensif karena melibatkan identifikasi senyawa secara instrumental, bukan sekadar uji kualitatif sederhana.
Dengan cara ini, kami bisa mengetahui secara lebih detail kandungan dan potensi ekstrak daun singkong sebagai antibakteri.
Mengapa Ini Penting untuk Sultra?
Singkong adalah tanaman rakyat. Daunnya melimpah namun kerap hanya dijadikan sayur atau pakan ternak.
Padahal, berdasarkan hasil penelitian kami, ekstrak daun singkong bisa menjadi alternatif alami yang murah, aman, dan mudah dikembangkan untuk membantu mengatasi infeksi bakteri, terutama di wilayah dengan akses terbatas terhadap obat modern.
Baca juga: Khasiat Daun Komba-komba, Mahasiswa Farmasi UHO Kendari: Hambat Pertumbuhan Sel Kanker Usus Besar
Lebih jauh, pendekatan ini membuka peluang riset lanjutan:
- Pengembangan produk fitofarmaka berbasis daun singkong.
- Pemberdayaan UMKM lokal di bidang herbal.
- Penguatan ketahanan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam sendiri.
| Punya Singkong di Rumah? Coba Resep Tuli-Tuli, Cara Buat Camilan Khas Baubau Sulawesi Tenggara |
|
|---|
| Cara Buat Teh Herbal Daun Kelor Dibagikan PKMI UHO ke Warga Soropia Konawe Sulawesi Tenggara |
|
|---|
| Khasiat Daun Komba-komba, Mahasiswa Farmasi UHO Kendari: Hambat Pertumbuhan Sel Kanker Usus Besar |
|
|---|
| OPINI Teknologi Hijau dan Tugas Negara: Transisi Energi Harus Didukung Inovasi |
|
|---|