OPINI
OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat
Tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini seharusnya mengguncang kesadaran kita sebagai bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Alumnuns-Aqidah-dan-Filsafat-Islam-Universitas-Islam-Negeri-Alauddin-Makassar-Akbar-Pelayati.jpg)
Seorang anak yang tidak memiliki perlengkapan sekolah yang layak bisa merasa berbeda dari teman-temannya. Ia bisa merasa malu, merasa tertinggal, bahkan merasa menjadi beban bagi keluarganya.
Baca juga: Mengukur Kapasitas, Merajut Mutu: TKA dan Peta Jalan Pendidikan
Tekanan semacam ini mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa, tetapi bagi seorang anak, perasaan itu bisa sangat berat.
Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anak. Tempat di mana mereka merasa diterima, dihargai, dan didukung.
Bukan tempat yang menambah beban psikologis mereka. Pendidikan bukan hanya tentang kurikulum dan nilai akademik, tetapi juga tentang empati, kepedulian, dan kemanusiaan.
Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau besarnya anggaran negara.
Keberhasilan sejati sebuah negara diukur dari bagaimana ia melindungi warganya yang paling lemah, terutama anak-anak. Tidak boleh ada anak yang kehilangan harapan hanya karena kemiskinan.
Negara, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum evaluasi.
Sistem bantuan pendidikan harus dipastikan benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Baca juga: OPINI: Revolusi Pendidikan atau Sekadar Ganti Nama? Kritik Kurikulum Baru dan Pembelajaran Mendalam
Sekolah harus lebih proaktif dalam melindungi siswa dari keluarga kurang mampu. Dan masyarakat harus membangun budaya kepedulian terhadap sesama.
Anak-anak adalah masa depan bangsa. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik pendidikan. Mereka adalah manusia yang memiliki mimpi, harapan, dan potensi.
Ketika seorang anak merasa hidupnya terlalu berat hanya karena tidak memiliki buku dan pulpen, maka itu adalah tanda bahwa ada yang salah dalam sistem yang kita bangun bersama.
Tragedi ini tidak boleh berlalu begitu saja. Ia harus menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar janji dalam konstitusi, tetapi tanggung jawab nyata yang harus dirasakan oleh setiap anak, tanpa terkecuali. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa sendirian dalam memperjuangkan haknya untuk belajar.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang memiliki anggaran terbesar, tetapi bangsa yang memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal.(*)
(TribunnewsSultra.com)
| OPINI - Penilai Publik: Profesi Terhormat yang Kini Berada di Ambang Penjara |
|
|---|
| OPINI: Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman |
|
|---|
| OPINI: Daun Singkong, Harapan Baru Melawan Bakteri Berbahaya di Era Resistensi Antibiotik |
|
|---|
| OPINI: Esensi Otonomi Daerah |
|
|---|
| OPINI: Solidaritas Tanpa Batas, Masyarakat Sulawesi Tenggara Bergerak untuk Aceh dan Sumatera |
|
|---|