Rabu, 29 April 2026

Menyapa Nusantara

Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat

Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Content Writer | Editor: Sitti Nurmalasari
zoom-inlihat foto Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat
Antara
KEBUN TEBU - Sejumlah pekerja menata tebu ke dalam bak truk saat panen. Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/Foc) 

Namun, peningkatan produksi saja tidak cukup. 

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa kegagalan swasembada seringkali disebabkan oleh lemahnya tata kelola. 

Oleh karena itu, pembenahan sistem menjadi kunci. 

Swasembada tidak hanya soal produksi, tetapi juga keberanian menata sistem agar berpihak pada kepentingan nasional.

Baca juga: INFOGRAFIK Penyerapan Tenaga Kerja Sektor IKM Meningkat

Pembenahan pertama adalah pengendalian impor harus dilakukan secara konsisten. 

Kebijakan impor yang tidak terukur dapat merusak harga domestik dan melemahkan insentif produksi petani. 

Kedua, pengawasan terhadap distribusi gula rafinasi perlu diperketat. 

Selama ini, rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi menjadi salah satu faktor yang menekan harga gula petani.

Ketiga, efisiensi pabrik gula harus ditingkatkan. 

Banyak pabrik gula di Indonesia yang sudah berusia tua dengan tingkat efisiensi rendah. 

Revitalisasi pabrik menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan daya saing industri gula nasional.

Baca juga: INFOGRAFIK Penguatan Penanganan Kanker di Indonesia

Tentunya juga yang keempat, akses pembiayaan bagi petani harus terus diperluas. 

Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk tebu menjadi langkah positif yang perlu diperkuat agar petani memiliki modal untuk meningkatkan produktivitas. 

Jika keempat aspek ini dapat berjalan seiring dengan peningkatan produksi, maka target swasembada gula nasional pada 2028 bukanlah hal yang mustahil.

Indonesia kini berada pada momentum penting menuju swasembada gula, ketika untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama produksi, kebijakan, dan tata kelola bergerak dalam arah yang selaras. 

Optimisme yang muncul bukan sekadar harapan, melainkan bertumpu pada data dan perkembangan nyata, produksi meningkat, program hulu berjalan, dan kebijakan semakin terarah.

Namun, capaian ini menuntut konsistensi, karena swasembada bukan peristiwa sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan disiplin dan koordinasi lintas sektor. 

Jika momentum ini terjaga, 2026 berpotensi menjadi tonggak swasembada gula konsumsi, dan 2028 menjadi penutup kebergantungan pada impor, sekaligus penanda bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri menuju kedaulatan pangan. (*)

(ANTARA/Kuntoro Boga Andri, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian/Senin, 20 April 2026)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved