Selasa, 28 April 2026

Menyapa Nusantara

Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat

Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Content Writer | Editor: Sitti Nurmalasari
zoom-inlihat foto Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat
Antara
KEBUN TEBU - Sejumlah pekerja menata tebu ke dalam bak truk saat panen. Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/Foc) 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia

Di tengah potensi sumber daya yang besar, negeri ini justru bergantung pada impor dalam jumlah signifikan.

Data menunjukkan bahwa dalam periode 2020–2024, impor gula Indonesia berkisar 5–6 juta ton per tahun, jauh melampaui produksi domestik yang hanya berada di kisaran 2,3 juta–2,6 juta ton. 

Ketergantungan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu importir gula terbesar di dunia.

Namun, dinamika dalam dua tahun terakhir menunjukkan arah yang berbeda. 

Produksi mulai meningkat, program pemerintah semakin terstruktur, dan yang terpenting, ada keberanian untuk mengubah tata kelola. 

Dengan kombinasi kebijakan hulu dan hilir yang lebih terintegrasi, optimisme menuju swasembada gula semakin nyata.

Baca juga: KKP dan Pemkab Kolaka Sertifikasi 6 Pulau Kecil Dorong Investasi Wisata

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya kedaulatan pangan sebagai fondasi kekuatan nasional. 

Ia menyatakan bahwa Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, termasuk komoditas strategis seperti gula, tanpa bergantung pada impor. 

Penegasan ini tentunya memberi sinyal bahwa swasembada gula menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah.

Perubahan paling nyata terlihat pada segmen gula konsumsi. 

Pada 2025, produksi gula nasional mencapai sekitar 2,67 juta ton, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung stagnan. 

Di saat yang sama, kebutuhan gula konsumsi nasional berada di kisaran 2,8 juta ton per tahun.

Yang membuat situasi 2026 menjadi berbeda adalah keberadaan stok awal (carry over) yang relatif besar, diperkirakan mencapai lebih dari 1,3 juta ton. 

Baca juga: Mendagri Tito Karnavian: Ruang Hijau dan Walkable City Jadi Solusi Biaya Kesehatan

Dengan kombinasi produksi baru dan stok tersebut, pemerintah mengambil langkah strategis dengan tidak mengimpor gula konsumsi pada 2026.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved