Rabu, 29 April 2026

Menyapa Nusantara

Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat

Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Content Writer | Editor: Sitti Nurmalasari
zoom-inlihat foto Gula Indonesia Bisa Swasembada Lebih Cepat
Antara
KEBUN TEBU - Sejumlah pekerja menata tebu ke dalam bak truk saat panen. Selama bertahun-tahun, komoditas gula menjadi paradoks dalam kebijakan pangan Indonesia. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/Foc) 

Produktivitas tebu yang sebelumnya berkisar 60 ton per hektare, di sejumlah lokasi meningkat menjadi 70–90 ton per hektare. 

Bahkan, beberapa daerah menunjukkan potensi lebih tinggi dengan rendemen gula yang juga membaik.

Selain intensifikasi, pemerintah juga mendorong ekstensifikasi melalui perluasan areal tebu. 

Pengembangan kawasan baru dilakukan di luar Jawa untuk mengatasi keterbatasan lahan. 

Target pengembangan mencapai ratusan ribu hektare dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: INFOGRAFIK Manfaat Program MBG Dirasakan 3 Juta Anak Sekolah hingga Ibu Menyusui

Namun, yang membuat strategi ini lebih kuat dibanding masa lalu adalah integrasinya dengan hilirisasi. 

Pemerintah tidak lagi melihat tebu hanya sebagai bahan baku gula konsumsi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri yang lebih luas, termasuk bioetanol dan energi terbarukan.

Hilirisasi memberikan dua dampak penting. 

Pertama, meningkatkan nilai tambah tebu sehingga kesejahteraan petani ikut terdongkrak. 

Kedua, menciptakan permintaan domestik yang lebih stabil, sehingga produksi tidak lagi rentan terhadap fluktuasi harga global.

Dengan kombinasi bongkar ratoon, perluasan lahan, dan hilirisasi, sektor tebu Indonesia mulai bergerak dari pola lama yang stagnan menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Tata Kelola Gula Nasional

Jika 2026 menjadi tonggak swasembada gula konsumsi, maka tantangan berikutnya adalah mencapai swasembada gula nasional secara keseluruhan pada 2028. 

Baca juga: INFOGRAFIK Pentingnya Izin Edar Produk Pangan UMKM

Ini mencakup kebutuhan industri yang selama ini masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.

Untuk mencapai target tersebut, produksi nasional perlu ditingkatkan hingga di atas 3 juta ton per tahun. 

Target ini sebenarnya sudah mulai dikejar dengan proyeksi peningkatan produksi secara bertahap hingga 2027–2028.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved