OPINI
OPINI : Hutan Rusak, Salah Siapa?
Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/juli-mulkian.jpg)
Dengan demikian dampak negatif seperti pencemaran lingkungan dapat dihindari.
Oleh: Juli Mulkian (Networking Narasi Toleransi Indonesia, Dewan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Katharsis Universitas Halu Oleo)
Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi.
Pada saat hutan tergradasi, maka akan dapat menyebabkan berbagai macam bencana, baik itu lokal maupun di seluruh dunia.
Kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan diseluruh dunia hilang setiap tahunnya.
Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu.
Baca juga: Tanggapi Kasus Warga Ditangkap karena Bentangkan Poster ke Jokowi, DPR akan Minta Penjelasan Kapolri
Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau bisa juga dijadikan sebagai lahan pemukiman bagi warga.
Metode yang umum digunakan dalam kegiatan deforestasi antara lain adalah dengan membakar hutan atau dengan cara menebang pohon-pohonnya secara liar.
Praktek tersebut akan dapat mengakibatkan tanah menjadi tandus, yang nantinya akan dapat menimbulkan berbagai macam bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang mempunyai area hutan paling luas, terutama di wilayah Kalimantan.
Maka tak heran banyak orang yang mengenal Kalimantan sebagai paru-paru dunia.
Namun akhir-ahir ini, hutan alam di Indonesia utamanya di wilayah Kalimantan dan Sumatera kian menyusut begitu cepat.
Karena banyak hutan rusak yang mengancam kehidupan mahluk hidup didalamnya, baik itu hewan ataupun manusia.
Apabila kita tidak menjaga hutan kita, jangan heran jika suatu saat nanti predikat Kalimantan sebagai paru-paru dunia hanya akan menjadi kenangan.