OPINI

OPINI : Hutan Rusak, Salah Siapa?

Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu.

Handover
Juli Mulkian (Networking Narasi Toleransi Indonesia, Dewan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Katharsis Universitas Halu Oleo) 

Keanekaragaman sumber daya alam di Indonesia di satu pihak merupakan kekayaan. Tetapi di pihak lain, justru menghadapi permasalahan dalam pengolahannya.

Hutan dan hasil-hasilnya merupakan sumber daya yang maha hebat.

Bagi Indonesia saat ini menduduki urutan kedua dalam penghasilan devisa negara.

Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda eksploitasi di beberapa kawasan hutan di Kalimantan.

Selama kurun waktu 10 tahun yang lalu tidak dilakukan oleh pemegang Hak Pengelola (HPL) dengan cara yang diharapkan sebagaimana yang tercantum dalam forest agreement.

Akibat eksploitasi secara mekanik tersebut  timbullah erosi, bahaya banjir dan kerusakan lingkungan. 

Baca juga: Modal Kop Surat Puskesmas, Mantan Pegawai Puskesmas Bikin Surat Antigen Palsu Tarif Rp 100 Ribu

Hal itu jelas terlihat, tanpa pengelolaan yang baik antara penanaman kembali  (regenerasi) dan penerapan sistem TPI. Maka sangat sulit untuk didapatkan hasil yang lestari dari hutan tropis tersebut.

Hal tersebut yang mendasari pemerintah akhir-akhir ini gencar melakukan pelestarian hutan

Usaha pemerintah dalam pelestarian sumber daya hutan tidak hanya melalui undang-undang, peraturan dan kebijakan dengan tujuan memberikan efek jera bagi para pengrusak hutan

Tetapi juga melalui program-program penghijauan, regenerasi hutan serta penyuluhan kepada masyarakat. 

Mengenai bahaya perladangan berpindah, membakar hutan dan sebagainnya sudah mulai di galakkan oleh presiden Joko Widodo demi menghindari kerusakan hutan yang lebih parah.

Namun dalam pelaksanaan program-program tersebut, tidak jarang kita temui berbagai efek samping yang dapat mencemarkan lingkungan. 

Satu contoh yang menarik adalah penerapan intensifikasi pertanian melalui penggunaan bibit unggul, pupuk, serta pestisida dengan tujuan agar para petani tidak berpindah-pindah tempat untuk bertani. 

Namun ternyata hal yang di terapkan itu mermiliki efek samping. 

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved