OPINI
OPINI: Gelar Haji dan Ironi Kesalehan: Kritik Sufistik atas Ego Ibadah Khas Modern
Opini yang ditulis Moh Safrudin, Dosen Ilmu al-Quran dan Tafsir IAIN Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Foto-Moh-Safrudin-Dosen-Ilmu-al-Quran-dan-Tafsir-IAIN-Kendari-penulis-opini.jpg)
Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi besar abad ketiga Hijriah, pernah mengatakan bahwa dosa yang paling sulit dihilangkan adalah merasa diri memiliki kedudukan di hadapan Allah.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ego spiritual jauh lebih berbahaya dibanding ego duniawi. Seseorang dapat meninggalkan harta dan kemewahan, tetapi masih terjebak pada rasa bangga terhadap ibadahnya.
Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi juga mengkritik manusia yang sibuk mempertontonkan agama tetapi kehilangan cinta sejati kepada Tuhan. Menurut Rumi, banyak orang hanya membawa
“kulit agama” sementara inti spiritualnya kosong. Ia mengibaratkan manusia yang membanggakan simbol-simbol kesalehan seperti orang yang memamerkan kendi tetapi tidak
memiliki air di dalamnya. Kritik Rumi ini sangat relevan dengan budaya pencitraan religius di era media sosial.
Sementara itu, Ibn ‘Athaillah al-Sakandari dalam kitab al-Hikam mengingatkan bahwa amal yang membuat seseorang merasa sombong justru dapat menjauhkannya dari Allah. Ia berkata
bahwa bisa jadi maksiat yang melahirkan penyesalan lebih dekat kepada rahmat Allah daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan. Ungkapan ini bukan meremehkan ibadah, melainkan peringatan bahwa kesombongan spiritual dapat menghancurkan seluruh nilai amal. Rabi’ah al-Adawiyah mengajarkan konsep cinta Ilahi yang murni.
Ia beribadah bukan karena ingin dipuji manusia, bukan pula semata-mata karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena cinta kepada Allah. Spiritualitas semacam ini menunjukkan bahwa ibadah sejati harus bebas dari kepentingan egoistik. Ketika manusia masih sibuk mencari validasi sosial dari ibadahnya, maka ia belum mencapai kemurnian cinta spiritual. Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga mengingatkan bahwa manusia yang paling jauh dari Allah bukan hanya mereka yang lalai beribadah, tetapi juga mereka yang tertipu oleh ibadahnya sendiri. Menurutnya, seseorang harus terus-menerus membersihkan hati dari keinginan dipuji dan dihormati karena amal salehnya. Tasawuf sejak awal hadir sebagai kritik terhadap formalisme agama. Para sufi tidak menolak syariat, tetapi mereka mengingatkan bahwa ritual tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan kekeringan spiritual. Ibadah sejati bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan perjalanan batin menuju Allah.
Tasawuf sejak awal hadir sebagai kritik terhadap formalisme agama. Para sufi tidak menolak syariat, tetapi mereka mengingatkan bahwa ritual tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan
kekeringan spiritual. Ibadah sejati bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan perjalanan batin menuju Allah. Salah satu penyakit paling berbahaya dalam ibadah menurut para sufi adalah riya’, yakni melakukan amal untuk memperoleh pujian manusia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa riya’ merupakan bentuk syirik halus karena seseorang menjadikan manusia sebagai tujuan amalnya. Orang yang riya’ mungkin tetap menjalankan ibadah secara benar, tetapi ruh ibadahnya telah rusak karena orientasinya bukan lagi Allah.
Dalam konteks modern, riya’ tidak selalu muncul secara kasar. Ia dapat hadir dalam bentuk pencitraan religius yang halus dan sulit disadari. Seseorang mungkin mengunggah aktivitas
hajinya dengan dalih berbagi inspirasi, tetapi di balik itu tersimpan keinginan untuk diakui sebagai pribadi saleh. Inilah jebakan ego spiritual yang sangat halus. Tasawuf mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan-Nya. Para wali dan sufi besar justru dikenal karena kerendahan wallahu “alam bissawab. (*)
(TribunnewsSultra.com)