OPINI
OPINI: Gelar Haji dan Ironi Kesalehan: Kritik Sufistik atas Ego Ibadah Khas Modern
Opini yang ditulis Moh Safrudin, Dosen Ilmu al-Quran dan Tafsir IAIN Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Foto-Moh-Safrudin-Dosen-Ilmu-al-Quran-dan-Tafsir-IAIN-Kendari-penulis-opini.jpg)
Opini yang ditulis Moh Safrudin, Dosen Ilmu al-Quran dan Tafsir IAIN Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Opini ini dikirimkan pada TribunnewsSultra.com, Rabu (10/6/2026) memberikan pandangan tentang Gelar Haji dan Ironi Kesalehan: Kritik Sufistik atas Ego Ibadah Khas Modern.
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Di tengah masyarakat Muslim modern, gelar haji sering kali menjadi simbol sosial yang memiliki nilai prestise tinggi. Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji bukan hanya dipandang sebagai Muslim yang berhasil menyempurnakan rukun Islam kelima, tetapi juga dianggap memiliki kedudukan moral dan spiritual yang lebih tinggi dibanding masyarakat biasa. Di berbagai daerah di Indonesia, penyematan gelar “Haji” atau “Hajjah” bahkan menjadi identitas sosial yang melekat kuat dalam interaksi sehari-hari.
Nama seseorang berubah, penghormatan sosial meningkat, dan posisi dalam masyarakat menjadi lebih terhormat. Namun di balik penghormatan itu, muncul sebuah ironi besar dalam kehidupan keberagamaan modern. Tidak sedikit orang yang menjadikan ibadah haji sebagai panggung sosial, simbol status ekonomi, bahkan alat legitimasi moral. Kesalehan berubah menjadi citra. Ibadah yang semestinya menjadi perjalanan menuju kerendahan hati justru melahirkan kesombongan spiritual.
Di media sosial, misalnya, ibadah haji sering dipamerkan melalui foto-foto eksklusif, unggahan yang menonjolkan kemewahan fasilitas, hingga narasi-narasi yang secara tidak sadar membangun hierarki kesalehan di tengah masyarakat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana modernitas telah memengaruhi cara manusia memahami ibadah. Dalam budaya konsumtif dan masyarakat yang semakin visual, symbol keagamaan mudah berubah menjadi komoditas sosial. Kesalehan tidak lagi semata-mata diukur dari kedalaman spiritual, melainkan dari seberapa tampak dan diakui oleh publik.
Akibatnya, agama perlahan kehilangan dimensi batinnya dan berubah menjadi identitas simbolik yang dipertontonkan. Dalam perspektif sufistik, gejala semacam ini merupakan penyakit ruhani yang sangat berbahaya. Tasawuf memandang bahwa ibadah sejati tidak berhenti pada ritual formal, melainkan harus melahirkan penghancuran ego dan penyucian hati. Ketika ibadah justru memperbesar ego, maka sesungguhnya seseorang sedang kehilangan substansi ibadah itu sendiri.
Haji yang semestinya menjadi perjalanan menuju kefanaan diri di hadapan Allah justru berubah menjadi instrumen pembesaran diri.
Tulisan ini berupaya mengkritisi fenomena gelar haji dan ironi kesalehan modern melalui pendekatan sufistik. Dengan melihat pandangan para sufi tentang riya’, ujub, kesombongan spiritual, dan hakikat ibadah, tulisan ini ingin menegaskan bahwa tantangan terbesar umat Islam modern bukan hanya menjalankan ritual agama, tetapi menjaga kemurnian hati di tengah budaya pencitraan.
Haji sebagai Simbol Kesalehan Sosial
Dalam sejarah Islam, ibadah haji memiliki kedudukan spiritual yang sangat agung. Ia merupakan perjalanan sakral menuju rumah Allah yang penuh dengan simbol penghambaan. Setiap
rangkaian ibadah haji mengandung makna pembebasan diri dari ego duniawi. Ihram melambangkan kesederhanaan dan pelepasan identitas sosial. Wukuf di Arafah menjadi simbol
perenungan dan pengakuan dosa manusia di hadapan Tuhan. Tawaf menggambarkan pusat kehidupan yang hanya tertuju kepada Allah.
Namun dalam realitas sosial modern, makna spiritual itu sering mengalami pergeseran. Haji tidak lagi dipahami sekadar sebagai perjalanan ruhani, melainkan juga simbol keberhasilan sosial
dan ekonomi. Tidak semua orang mampu berhaji karena biaya yang besar membuat ibadah ini memiliki nilai prestise tertentu. Akibatnya, masyarakat sering mengaitkan gelar haji dengan
kemapanan ekonomi, kehormatan sosial, dan otoritas moral.
Di banyak tempat, seseorang yang telah berhaji memperoleh penghormatan khusus. Ia dipanggil dengan gelar baru, ditempatkan pada posisi sosial tertentu, bahkan dianggap lebih layak
berbicara tentang agama. Dalam batas tertentu, penghormatan itu memang wajar sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaksanaan ibadah yang berat dan mulia. Akan tetapi, masalah muncul ketika gelar tersebut berubah menjadi alat pembentukan superioritas sosial.
Ironinya, sebagian orang justru mengejar simbol sosial haji lebih daripada makna spiritualnya. Ada yang berhutang demi memperoleh status sosial sebagai haji. Ada pula yang menjadikan
perjalanan haji sebagai ajang pencitraan publik. Fenomena ini semakin tampak di era digital ketika ibadah menjadi bagian dari budaya pertunjukan media sosial. Media sosial telah mengubah pengalaman religius menjadi konsumsi publik. Banyak orang merasa perlu memperlihatkan setiap detail ibadahnya kepada orang lain. Foto di depan Ka’bah,
video tangisan saat tawaf, hingga siaran langsung saat berdoa di Masjidil Haram menjadi bagian dari budaya visual keagamaan modern. Tentu tidak semua dokumentasi ibadah bermakna riya’. Akan tetapi, ketika orientasi utama bergeser pada pencarian pengakuan sosial, maka ibadah mulai kehilangan kesunyian spiritualnya.
Masyarakat modern memang hidup dalam budaya eksistensi visual. Seseorang dianggap “ada” ketika terlihat. Dalam konteks ini, agama pun tidak luput dari logika pertunjukan. Kesalehan
menjadi sesuatu yang dipamerkan agar memperoleh validasi sosial. Akibatnya, manusia lebih sibuk membangun citra saleh daripada memperbaiki hati. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana kapitalisme budaya telah memasuki ruang religius. Haji menjadi bagian dari identitas kelas menengah Muslim. Paket-paket haji eksklusif, fasilitas mewah, hotel bintang lima, dan layanan VIP menunjukkan bahwa bahkan ibadah pun dapat terjebak dalam logika konsumsi modern. Kesederhanaan spiritual yang menjadi inti ibadah perlahan tergeser oleh budaya kemewahan. Padahal secara hakikat, haji justru mengajarkan penghancuran seluruh simbol status manusia.
Di hadapan Allah, semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama. Tidak ada perbedaan antara pejabat, pengusaha, petani, atau rakyat biasa. Semua berdiri sebagai hamba yang lemah. Namun ketika pulang, sebagian orang justru membawa kembali identitas baru yang memperbesar ego sosial. Di sinilah letak ironi kesalehan modern. Ibadah yang seharusnya menghancurkan kesombongan justru melahirkan kebanggaan spiritual. Gelar haji yang seharusnya menjadi pengingat tanggung jawab moral malah berubah menjadi simbol prestise. Dalam pandangan tasawuf, kondisi semacam ini merupakan tanda bahwa seseorang masih terpenjara oleh nafsu egoistik.
Kritik Sufistik terhadap Ego Ibadah
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa penyakit terbesar dalam ibadah adalah riya’ dan ujub. Menurutnya, banyak manusia yang secara lahir tampak beribadah kepada
Allah, tetapi secara batin sesungguhnya sedang mencari penghormatan manusia. Al-Ghazali menyebut riya’ sebagai “syirik khafi” atau syirik tersembunyi karena orientasi hati telah
bercabang kepada selain Allah. Dalam konteks modern, peringatan al-Ghazali menjadi sangat relevan ketika ibadah sering dipertontonkan demi pengakuan sosial.
Al-Ghazali juga menegaskan bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah adalah lahirnya kerendahan hati. Semakin seseorang merasa suci dan lebih baik daripada orang lain, maka
semakin besar kemungkinan ia sedang tertipu oleh amalnya sendiri. Karena itu, para sufi selalu mencurigai dirinya sendiri dan takut jika amal mereka tidak diterima oleh Allah.
Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi besar abad ketiga Hijriah, pernah mengatakan bahwa dosa yang paling sulit dihilangkan adalah merasa diri memiliki kedudukan di hadapan Allah.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ego spiritual jauh lebih berbahaya dibanding ego duniawi. Seseorang dapat meninggalkan harta dan kemewahan, tetapi masih terjebak pada rasa bangga terhadap ibadahnya.
Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi juga mengkritik manusia yang sibuk mempertontonkan agama tetapi kehilangan cinta sejati kepada Tuhan. Menurut Rumi, banyak orang hanya membawa
“kulit agama” sementara inti spiritualnya kosong. Ia mengibaratkan manusia yang membanggakan simbol-simbol kesalehan seperti orang yang memamerkan kendi tetapi tidak
memiliki air di dalamnya. Kritik Rumi ini sangat relevan dengan budaya pencitraan religius di era media sosial.
Sementara itu, Ibn ‘Athaillah al-Sakandari dalam kitab al-Hikam mengingatkan bahwa amal yang membuat seseorang merasa sombong justru dapat menjauhkannya dari Allah. Ia berkata
bahwa bisa jadi maksiat yang melahirkan penyesalan lebih dekat kepada rahmat Allah daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan. Ungkapan ini bukan meremehkan ibadah, melainkan peringatan bahwa kesombongan spiritual dapat menghancurkan seluruh nilai amal. Rabi’ah al-Adawiyah mengajarkan konsep cinta Ilahi yang murni.
Ia beribadah bukan karena ingin dipuji manusia, bukan pula semata-mata karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena cinta kepada Allah. Spiritualitas semacam ini menunjukkan bahwa ibadah sejati harus bebas dari kepentingan egoistik. Ketika manusia masih sibuk mencari validasi sosial dari ibadahnya, maka ia belum mencapai kemurnian cinta spiritual. Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga mengingatkan bahwa manusia yang paling jauh dari Allah bukan hanya mereka yang lalai beribadah, tetapi juga mereka yang tertipu oleh ibadahnya sendiri. Menurutnya, seseorang harus terus-menerus membersihkan hati dari keinginan dipuji dan dihormati karena amal salehnya. Tasawuf sejak awal hadir sebagai kritik terhadap formalisme agama. Para sufi tidak menolak syariat, tetapi mereka mengingatkan bahwa ritual tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan kekeringan spiritual. Ibadah sejati bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan perjalanan batin menuju Allah.
Tasawuf sejak awal hadir sebagai kritik terhadap formalisme agama. Para sufi tidak menolak syariat, tetapi mereka mengingatkan bahwa ritual tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan
kekeringan spiritual. Ibadah sejati bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan perjalanan batin menuju Allah. Salah satu penyakit paling berbahaya dalam ibadah menurut para sufi adalah riya’, yakni melakukan amal untuk memperoleh pujian manusia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa riya’ merupakan bentuk syirik halus karena seseorang menjadikan manusia sebagai tujuan amalnya. Orang yang riya’ mungkin tetap menjalankan ibadah secara benar, tetapi ruh ibadahnya telah rusak karena orientasinya bukan lagi Allah.
Dalam konteks modern, riya’ tidak selalu muncul secara kasar. Ia dapat hadir dalam bentuk pencitraan religius yang halus dan sulit disadari. Seseorang mungkin mengunggah aktivitas
hajinya dengan dalih berbagi inspirasi, tetapi di balik itu tersimpan keinginan untuk diakui sebagai pribadi saleh. Inilah jebakan ego spiritual yang sangat halus. Tasawuf mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan-Nya. Para wali dan sufi besar justru dikenal karena kerendahan wallahu “alam bissawab. (*)
(TribunnewsSultra.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.