Senin, 18 Mei 2026

OPINI

OPINI: Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman

Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentu akrab dengan lirik lagu “nenek moyangku seorang pelaut”.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI: Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman
Istimewa
ALUMNI UIN ALAUDDIN - Alumni Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan Akal Sehat di Tenggara Reading House, Akbar Pelayati menulis opini tentang Nenek Moyang Orang Sulawesi: Pelaut dan Seniman. Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentu akrab dengan lirik lagu “nenek moyangku seorang pelaut”. (Istimewa) 

Oleh: Akbar Pelayati

(Alumni Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan Akal Sehat di Tenggara Reading House)

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentu akrab dengan lirik lagu “nenek moyangku seorang pelaut”.

Ungkapan tersebut kerap dipahami sebagai simbol identitas bangsa maritim.

Namun, makna di balik lirik itu tidak berhenti pada sebatas ungkapan kultural, melainkan memiliki dasar kuat yang ditopang oleh temuan sejarah, kajian arkeologi, serta penelitian linguistik yang menegaskan karakter bahari nenek moyang bangsa Indonesia.

Secara geografis, Indonesia terletak pada jalur strategis maritim dunia dan sejak ribuan tahun lalu telah dihuni oleh bangsa Austronesia, yakni kelompok manusia yang dikenal memiliki kemampuan pelayaran yang maju.

Melalui penggunaan perahu sebagai sarana utama, mereka melakukan migrasi dan penyebaran budaya dari kawasan Taiwan dan Filipina, melintasi Nusantara, hingga mencapai wilayah Madagaskar dan kawasan Pasifik.

Baca juga: OPINI: Daun Singkong, Harapan Baru Melawan Bakteri Berbahaya di Era Resistensi Antibiotik

Sulawesi dapat dipandang sebagai salah satu bukti kuat karakter maritim nenek moyang bangsa Indonesia.

Sejak ribuan tahun lalu, pulau ini berperan sebagai simpul penting jalur pelayaran Nusantara yang menghubungkan Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Posisi strategis tersebut melahirkan berbagai komunitas bahari yang memiliki ketangguhan dan kemampuan adaptasi tinggi terhadap kehidupan laut.

Berbagai simbol historis dan kultural memperkuat pandangan bahwa masyarakat Sulawesi memiliki tradisi pelayaran yang kuat.

Suku Bugis dan Makassar dikenal sebagai pelaut, pedagang, sekaligus perantau ulung, dengan kapal phinisi sebagai representasi kejayaan maritim Nusantara.

Baca juga: OPINI: Esensi Otonomi Daerah

Selain itu, suku Bajo menjadikan laut sebagai ruang hidup utama, sementara kerajaan maritim seperti Gowa–Tallo tercatat pernah menguasai jalur perdagangan laut di kawasan Indonesia timur.

Catatan lontara Bugis turut mengonfirmasi tradisi pelayaran lintas samudra yang telah berlangsung lama, bahkan hingga mencapai wilayah Australia bagian utara yang dikenal sebagai Marege.

Namun, warisan nenek moyang orang Sulawesi tidak hanya berhenti pada kemampuan menjelajah laut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved