OPINI

OPINI: Dari Kematian Affan hingga Spiral Kekerasan

Bagaimana sebuah tragedi individual bisa berubah menjadi kekerasan massal lintas daerah.

Istimewa
DOSEN FISIP UM KENDARI - Andi Awaluddin Maruf, Pemerhati Demokrasi dan Politik Lokal sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Kendari. Penuis opini berjudul Dari Kematian Affan hingga Spiral Kekerasan. 

Ketika saluran komunikasi formal tidak berfungsi, masyarakat akan mencari cara lain yang belum tentu konstruktif untuk menyampaikan aspirasinya.

Tantangan untuk Presiden Prabowo

Di tengah krisis ini, Presiden Prabowo Subianto menghadapi ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.

Responsivitas, bukan reaktivitas, yang dibutuhkan saat ini.

Alih-alih membuat pernyataan reaktif atau menuduh ada kepentingan lain yang menunggangi gerakan aksi, Presiden harus menunjukkan kemampuan mendengar keluhan publik yang genuine.

Kemarahan masyarakat atas kematian pengemudi ojol dalam aksi demonstrasi terhadap DPR adalah ekspresi frustrasi yang real terhadap sistem politik yang terasa jauh dari kehidupan rakyat kecil.

Menuduh adanya dalang atau kepentingan politik tertentu justru akan memperburuk krisis legitimasi yang sudah terjadi.

Sejarah menunjukkan pemimpin yang berhasil mengelola krisis sosial adalah mereka yang mampu mendengar dengan empati, bukan yang defensif atau mencari kambing hitam.

Presiden Prabowo, dengan pengalaman politik yang panjang, seharusnya memahami bahwa mendengarkan keluhan publik bukan tanda kelemahan tetapi tanda kepemimpinan yang matang.

Yang dibutuhkan saat ini adalah pengakuan terhadap rasa sakit masyarakat, bukan penyangkalan atau tuduhan.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang bisa merasakan detak nadi mereka, bukan yang sibuk mencari-cari dalang di balik setiap kritik dan tragedi.

Jalan ke Depan, empati sebagai kunci

Kematian pengemudi ojol dan korban-korban di Makassar harus menjadi pengingat bahwa di balik setiap kebijakan politik ada wajah manusia, ada keluarga yang merasakan dampaknya secara langsung.

Politik tanpa kemanusiaan adalah resep bagi tragedi sosial yang berulang.

Pilihan ada di tangan kita semua terutama Presiden Prabowo sebagai pemimpin tertinggi negara.

Saatnya memilih empati daripada ego, mendengar daripada menuduh, kepemimpinan yang responsif daripada reaktif.

Karena pada akhirnya, setiap korban jiwa adalah pengingat.  

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melindungi warganya yang paling rentan, bukan yang mengorbankan mereka demi kepentingan politik sesaat.(*)

(TribunnewsSultra.com)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved