OPINI

OPINI: Dari Kematian Affan hingga Spiral Kekerasan

Bagaimana sebuah tragedi individual bisa berubah menjadi kekerasan massal lintas daerah.

Istimewa
DOSEN FISIP UM KENDARI - Andi Awaluddin Maruf, Pemerhati Demokrasi dan Politik Lokal sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Kendari. Penuis opini berjudul Dari Kematian Affan hingga Spiral Kekerasan. 

Yang berbahaya, dalam kondisi deindividuasi hilangnya identitas individual dalam massa logika kemanusiaan sering kalah dari emosi kolektif.

Orang yang dalam kondisi normal bersikap rasional bisa berubah menjadi destruktif ketika terjebak dalam dinamika kerumunan.

Baca juga: OPINI: Pemuda Merdeka, Sultra Aman, Sejahtera dan Religius

Krisis Legitimasi yang Mendasar

Fenomena ini mencerminkan krisis legitimasi politik yang mendalam.

Ketika masyarakat tidak lagi percaya pada institusi formal untuk menyalurkan aspirasi, mereka mencari cara lain—bahkan yang destruktif untuk membuat suara mereka didengar.

Survei-survei terkini menunjukkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap DPR dan lembaga politik lainnya.

Ketika wakil rakyat tidak mampu merasakan detak nadi konstituennya, demokrasi kehilangan esensi dasarnya representasi yang bermakna.

Pernyataan tidak berempati dari anggota DPR bukan sekadar kesalahan komunikasi ini adalah simbol jarak emosional yang menganga antara elite politik dan rakyat yang diwakilinya.

Pembelajaran dari Tragedi

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik:

Pertama, responsivitas dan empati bukan lagi pilihan bagi elite politik, melainkan keharusan.

Baca juga: OPINI: Citizen Science Sebagai Cara Lain dalam Mencari Solusi Terkait Isu Lingkungan

Di era digital, setiap pernyataan akan diamplifikasi dan bisa berakibat fatal—tidak hanya bagi karier politik, tetapi bagi nyawa manusia.

Kedua, media sosial memiliki kekuatan ganda: bisa menjadi alat demokratisasi informasi, tetapi juga bisa menjadi mesin polarisasi yang berbahaya.

Literasi media menjadi keterampilan penting agar masyarakat tidak mudah terseret arus manipulasi emosional.

Ketiga, dialog konstruktif harus diprioritaskan.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved