Jumat, 22 Mei 2026

Menyapa Nusantara

Jangan Ciptakan Fobia pada Teknologi

Persoalan anak-anak memanfaatkan gawai untuk bermain atau mem-browsing konten yang tidak sepantasnya bisa dihindari.

Tayang:
zoom-inlihat foto Jangan Ciptakan Fobia pada Teknologi
ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/hp/aa
PELAJAR PAKAI GAWAI - Pelajar memanfaatkan jaringan internet 4G untuk belajar secara daring di Desa Budo, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (8/4/2021). 

Bisa saja berupa larangan mengakses konten di luar materi pembelajaran, atau jadwal pemberian tugas melalui gawai yang diatur oleh sekolah. Jadi para siswa mengakses teknologi hanya untuk keperluan pengerjaan tugas.

Persoalan anak-anak memanfaatkan gawai untuk bermain atau mem-browsing konten yang tidak sepantasnya bisa dihindari.

Artinya akan kelihatan mana yang mengerjakan tugas dan mana yang tidak. Jadi sebuah perubahan teknologi tidak harus dihindari. Lebih bijaklah dalam menggunakannya.

Perlu diakui, inovator teknologi ini adalah generasi kita, tapi yang lebih piawai memakainya adalah gen Z.

Mereka adalah para digital native yang lebih akrab dengan dunia maya. Jadi berikanlah tugas yang memberikan kesempatan mereka mengakses konten positif dari gawai yang ada. Ini akan lebih bijak dari pada melarang penggunaannya.

Kita bisa mencontoh negara lain yang memberikan tugas melalui gawai dengan menetapkan aturan yang ketat. Pemerintah Italia memperbolehkan penggunaan gawai untuk penyandang disabilitas demi keberlangsungan pendidikan.

Sementara pemerintah Swedia sempat menerapkan pendekatan pendidikan serba digital pada 2009, namun awal tahun ini Swedia kembali menggunakan buku teks cetak di ruang kelas, alih-alih menerapkan pendekatan serba digitalnya.

Baca juga: Mensos Pastikan Ada Tunjangan Penghasilan Guru dan Kepsek Sekolah Rakyat

Di negara tersebut terlihat pemerintah berupaya memfasilitasi siswa agar piawai memanfaatkan informasi di dunia maya melalui gawai mereka.

Mereka diharapkan mampu memilih dan memilah informasi yang bermanfaat dan dapat dipercayai. Situasi ini berbeda dengan di Indonesia, di mana para siswa masih gagap, sehingga mereka cenderung lebih menikmati menggunakan gawai dari pada mendengarkan penjelasan guru.

Agenda ke depan

Apa yang bisa kita antisipasi untuk memperbaiki kondisi ini? Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan. Pertama, menjadwalkan pemberian tugas pada jam belajar siswa dan pada saat mereka berada di sekolah.

Waktu-waktu yang tertentu ini akan membuat rutinitas dan terjadwal untuk mengonsumsi gawainya. Artinya, kontraproduktif penggunaan gawai ini bisa dihindari. Penggunaan gawai seperlunya, hanya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru bisa kita ciptakan.

Gawai bisa menjadi media yang benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan belajar-mengajar. Sekali lagi, kita tidak perlu menghindari, tetapi lebih arif dan bijaksana dalam penggunaan gawai.

Gawai diciptakan untuk mempermudah tugas atau pekerjaan manusia, bukan sekadar sarana bermain atau refreshing. Jika kita sudah bisa memanfaatkan teknologi telepon seluler, maka kita sudah bisa memasuki abad baru teknologi.

Kedua, para guru perlu memberikan hadiah bagi siswa yang mampu mengerjakan tugas lewat telepon seluler. Penghargaan ini perlu difasilitasi sekolah, menyediakan anggaran khusus sebagai bagian dari fasilitas belajar.

Baca juga: Konsesi Sebagai Strategi Penguatan Partisipasi Hak Disabilitas

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved