Berita Sulawesi Tenggara

Singgung AMDAL, Menko Luhut Binsar Pandjaitan Permudah Izin PT Vale, Ini Alasannya

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Singgung terkait izin AMDAL untuk proyek nikel terbaru PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Blok Pomalaa.

Istimewa
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investai RI (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan saat mengunjungi proyek nikel terbaru PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Blok Pomalaa, 

"Proyek ini harus jalan, karena proyek ini membangum satu ekosistem. Bukan membangun satu proyek. Kita ingin membangun satu ekosistem untuk satu litium baterai. Yang nanti bisa lari ke mobil listrik, bisa lari ke mana-mana," ujar Luhut.

Baca juga: Hugua Sebut Mandeknya Penerbangan ke Wakatobi Gegara Ulah Pemda Tak Serius Urusi Kerja Sama

Diketahui, pabrik smelter PT Vale yang akan dibangun di Pomalaa bakal memproses bijih nikel limonit, menggunakan teknologi HPAL dari Hoayou.

Diyakini, smelter ini jadi jantung ekosistem pengembangan industri kendaraan listrik dalam negeri, sebab akan menghasilkan produk smelter Mix Hydroxide Precipitate (MHP), salah satu komponen baterai lithium.

Menurut proyeksi, produksi nikel berbasis HPAL di kawasan tersebut bakal menjadi yang terbesar di dunia.

Di mana produksi tahunan smelter di Pomalaa diperkirakan mencapai 120.000 ton nikel, dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam produk MHP.

Sememtara modal investasi untuk membangun fasilitas tersebut tidak main-main, dengan nilai sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp 70,5 triliun.

"Pabrik HPAL yang terbesar di dunia itu sebelumnya ada di Halmahera dengan produksi 20.000 ton nikel sudah ekspor, di Morowali ada 30.000 ton nikel, dan kemudian ada di sini 120.000 ton nikel. Jadi kita yang terbesar di seluruh dunia," kata Luhut. (*)

 

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved