Opini
Opini: Tantangan Perbankan Daerah
Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi salah satu institusi perbankan lokal yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi utamanya di daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Komisaris-Bank-Sultra-Laode-Rahmat-Apiti.jpg)
Digitalisasi perbankan beberapa tahun terakhir menjadi tren.
Berbagai inovasi teknologi ditawarkan perbankan untuk memudahkan pelayanan pada masyarakat.
Bank daerah sebagai pemain ‘utama’ di tingkat daerah harus fokus melakukan pembenahan dan inovasi untuk bisa bersaing dengan bank-bank raksasa.
Diakui atau tidak sebagian besar bank daerah mampu beradptasi dengan lingkunan perbankan kekinian.
Namun, sebagian juga masih jalan di tempat.
Berbagai problematika yang menyelimuti perbankan lokal menjadi tantangan tersendiri bagi bank daerah untuk melakukan inovasi bisnis.
Persaingan yang makin kompetitif tidak bisa dihindari.
Dalam habitat perbankan semakin inovatif maka semakin berada di garda terdepan memimpin pasar.
Setiap perbankan lokal mengalami masalah yang berbeda dalam melakukan inovasi.
Namun, secara umum penulis menyimpulkan beberapa hambatan yang dialami perbankan daerah.
Baca juga: Opini: Membangun Kualitas Revolusi Industri 5.0 Dalam Pengembangan SDM Desa di Sulawesi Tenggara
Pertama, digitalisasi. Berbagai inovasi dilakukan perbankan untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Digitalisasi pelayanan menjadi tren, berbagai produk layanan yang inovatif menjadi "jualan" perbankan untuk merebut pasar.
Digitalisasi sistem dan atau layanan harus direspon dengan cepat bila lamban maka secara perlahan-lahan akan ditinggalkan masyarakat.
Sebagian bank daerah ada yang merespon dengan cepat dan sebagian masih jalan di tempat dan atau tidak responsif terhadap perubahan.
Bagi bank lokal yang cepat menyadari pentingnya digitalisasi sebagai senjata utama untuk merebut pasar maka bisa bersaing dengan perbankan umum lainnya.
Baca juga: Opini: Tantangan Penjabat Bupati dan Buton Selatan Nantinya