OPINI

OPINI : Hutan Rusak, Salah Siapa?

Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu.

Handover
Juli Mulkian (Networking Narasi Toleransi Indonesia, Dewan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Katharsis Universitas Halu Oleo) 

Oleh: Juli Mulkian (Networking Narasi Toleransi Indonesia, Dewan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Katharsis Universitas Halu Oleo

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi. 

Pada saat hutan tergradasi, maka akan dapat menyebabkan berbagai macam bencana, baik itu lokal maupun di seluruh dunia.  

Kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. 

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan diseluruh dunia hilang setiap tahunnya.

Baca juga: Dikejar Warga dan Polisi, Begal Tinggalkan Motor Smash Miliknya dan Motor NMAX Curian di Hutan

Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu. 

Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau bisa juga dijadikan sebagai lahan pemukiman bagi warga. 

Metode yang umum digunakan dalam kegiatan deforestasi antara lain adalah dengan membakar hutan atau dengan cara menebang pohon-pohonnya secara liar. 

Praktek tersebut akan dapat mengakibatkan tanah menjadi tandus, yang nantinya akan dapat menimbulkan berbagai macam bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang mempunyai area hutan paling luas, terutama di wilayah Kalimantan.

Maka tak heran banyak orang yang mengenal Kalimantan sebagai paru-paru dunia. 

Namun akhir-ahir ini, hutan alam di Indonesia utamanya di wilayah Kalimantan dan Sumatera kian menyusut begitu cepat.

Baca juga: Dikira Miras, 5 Remaja Tewas Minum Hand Sanitizer, Ternyata Diracun Teman yang Sering Dipalak Korban

Karena banyak hutan rusak yang mengancam kehidupan mahluk hidup didalamnya, baik itu hewan ataupun manusia. 

Apabila kita tidak menjaga hutan kita, jangan heran jika suatu saat nanti predikat Kalimantan sebagai paru-paru dunia hanya akan menjadi kenangan.

Keanekaragaman sumber daya alam di Indonesia di satu pihak merupakan kekayaan. Tetapi di pihak lain, justru menghadapi permasalahan dalam pengolahannya.

Hutan dan hasil-hasilnya merupakan sumber daya yang maha hebat.

Bagi Indonesia saat ini menduduki urutan kedua dalam penghasilan devisa negara.

Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda eksploitasi di beberapa kawasan hutan di Kalimantan.

Selama kurun waktu 10 tahun yang lalu tidak dilakukan oleh pemegang Hak Pengelola (HPL) dengan cara yang diharapkan sebagaimana yang tercantum dalam forest agreement.

Akibat eksploitasi secara mekanik tersebut  timbullah erosi, bahaya banjir dan kerusakan lingkungan. 

Baca juga: Modal Kop Surat Puskesmas, Mantan Pegawai Puskesmas Bikin Surat Antigen Palsu Tarif Rp 100 Ribu

Hal itu jelas terlihat, tanpa pengelolaan yang baik antara penanaman kembali  (regenerasi) dan penerapan sistem TPI. Maka sangat sulit untuk didapatkan hasil yang lestari dari hutan tropis tersebut.

Hal tersebut yang mendasari pemerintah akhir-akhir ini gencar melakukan pelestarian hutan

Usaha pemerintah dalam pelestarian sumber daya hutan tidak hanya melalui undang-undang, peraturan dan kebijakan dengan tujuan memberikan efek jera bagi para pengrusak hutan

Tetapi juga melalui program-program penghijauan, regenerasi hutan serta penyuluhan kepada masyarakat. 

Mengenai bahaya perladangan berpindah, membakar hutan dan sebagainnya sudah mulai di galakkan oleh presiden Joko Widodo demi menghindari kerusakan hutan yang lebih parah.

Namun dalam pelaksanaan program-program tersebut, tidak jarang kita temui berbagai efek samping yang dapat mencemarkan lingkungan. 

Satu contoh yang menarik adalah penerapan intensifikasi pertanian melalui penggunaan bibit unggul, pupuk, serta pestisida dengan tujuan agar para petani tidak berpindah-pindah tempat untuk bertani. 

Namun ternyata hal yang di terapkan itu mermiliki efek samping. 

Akibat pemakaian pestisida, banyak memunculkan hama yang pada akhirnya memaksa para petani untuk melakukan perpindahan kebun.

Baca juga: Suami Restui Istri Menikah dengan Pria Lain sampai Bantu Palsukan Dokumen Pernikahan di KUA

Seharusnya suatu kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam mempermulus program yang dicanangkan Presiden, perlu disertai analisa dampak lingkungan dengan tujuan agar dampak positif dapat dikembangkan dan dampak negatifnya ditekan. 

Dengan demikian dampak negatif seperti pencemaran lingkungan dapat dihindari.

Oleh: Juli Mulkian (Networking Narasi Toleransi Indonesia, Dewan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Katharsis Universitas Halu Oleo

Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi. 

Pada saat hutan tergradasi, maka akan dapat menyebabkan berbagai macam bencana, baik itu lokal maupun di seluruh dunia.  

Kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. 

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan diseluruh dunia hilang setiap tahunnya.

Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu. 

Baca juga: Tanggapi Kasus Warga Ditangkap karena Bentangkan Poster ke Jokowi, DPR akan Minta Penjelasan Kapolri

Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau bisa juga dijadikan sebagai lahan pemukiman bagi warga. 

Metode yang umum digunakan dalam kegiatan deforestasi antara lain adalah dengan membakar hutan atau dengan cara menebang pohon-pohonnya secara liar. 

Praktek tersebut akan dapat mengakibatkan tanah menjadi tandus, yang nantinya akan dapat menimbulkan berbagai macam bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang mempunyai area hutan paling luas, terutama di wilayah Kalimantan.

Maka tak heran banyak orang yang mengenal Kalimantan sebagai paru-paru dunia. 

Namun akhir-ahir ini, hutan alam di Indonesia utamanya di wilayah Kalimantan dan Sumatera kian menyusut begitu cepat.

Karena banyak hutan rusak yang mengancam kehidupan mahluk hidup didalamnya, baik itu hewan ataupun manusia. 

Apabila kita tidak menjaga hutan kita, jangan heran jika suatu saat nanti predikat Kalimantan sebagai paru-paru dunia hanya akan menjadi kenangan.

Keanekaragaman sumber daya alam di Indonesia di satu pihak merupakan kekayaan. Tetapi di pihak lain, justru menghadapi permasalahan dalam pengolahannya.

Baca juga: Sinopsis Serial Marvel Hawkeye, Tampilkan Hailee Steinfeld sebagai Kate Bishop

Hutan dan hasil-hasilnya merupakan sumber daya yang maha hebat.

Bagi Indonesia saat ini menduduki urutan kedua dalam penghasilan devisa negara.

Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda eksploitasi di beberapa kawasan hutan di Kalimantan.

Selama kurun waktu 10 tahun yang lalu tidak dilakukan oleh pemegang Hak Pengelola (HPL) dengan cara yang diharapkan sebagaimana yang tercantum dalam forest agreement.

Akibat eksploitasi secara mekanik tersebut  timbullah erosi, bahaya banjir dan kerusakan lingkungan. 

Hal itu jelas terlihat, tanpa pengelolaan yang baik antara penanaman kembali  (regenerasi) dan penerapan sistem TPI. Maka sangat sulit untuk didapatkan hasil yang lestari dari hutan tropis tersebut.

Hal tersebut yang mendasari pemerintah akhir-akhir ini gencar melakukan pelestarian hutan

Usaha pemerintah dalam pelestarian sumber daya hutan tidak hanya melalui undang-undang, peraturan dan kebijakan dengan tujuan memberikan efek jera bagi para pengrusak hutan

Tetapi juga melalui program-program penghijauan, regenerasi hutan serta penyuluhan kepada masyarakat. 

Baca juga: Akibat Bentrok Kelompok Pemuda di Kendari, Lippo Plaza dan McDonalds Dijaga Ketat Aparat Kepolisian

Mengenai bahaya perladangan berpindah, membakar hutan dan sebagainnya sudah mulai di galakkan oleh presiden Joko Widodo demi menghindari kerusakan hutan yang lebih parah.

Namun dalam pelaksanaan program-program tersebut, tidak jarang kita temui berbagai efek samping yang dapat mencemarkan lingkungan. 

Satu contoh yang menarik adalah penerapan intensifikasi pertanian melalui penggunaan bibit unggul, pupuk, serta pestisida dengan tujuan agar para petani tidak berpindah-pindah tempat untuk bertani. 

Namun ternyata hal yang di terapkan itu mermiliki efek samping. 

Akibat pemakaian pestisida, banyak memunculkan hama yang pada akhirnya memaksa para petani untuk melakukan perpindahan kebun.

Seharusnya suatu kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam mempermulus program yang dicanangkan Presiden, perlu disertai analisa dampak lingkungan dengan tujuan agar dampak positif dapat dikembangkan dan dampak negatifnya ditekan. 

Dengan demikian dampak negatif seperti pencemaran lingkungan dapat dihindari. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved