Selasa, 26 Mei 2026

OPINI

OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach

Meski berbeda secara doktrinal, mereka berlabuh pada satu muara yang sama: Keadilan sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah.

Tayang:
zoom-inlihat foto OPINI Teologi Pembebasan: dari Gutierrez hingga Haji Misbach
Istimewa/Dokumentasi TribunnewsSultra.com
PENULIS OPINI - Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial di Baubau/Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang. Penulis Opini Teologi Pembebasan: Dari Gutierrez hingga Haji Misbach yang dikirimkan pada redaksi TribunnewsSultra.com, Senin (16/3/2026). 

Oleh: Zainal Arifin Ryha, Pemerhati Sosial di Baubau/Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang, menuliskan Opini yang dikirimkan pada redaksi TribunnewsSultra.com, Senin (16/3/2026).

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Dalam anatomi pemikiran global, agama kerap dituding sebagai "candu"—sebuah eskapisme yang melumpuhkan kesadaran massa untuk menggugat struktur sosial yang opresif.

Namun, di tangan para pemikir revolusioner, agama justru bermutasi menjadi "senjata" pamungkas bagi kaum tertindas (the oppressed). Inilah yang disebut Teologi Pembebasan.

Meski berpijak pada lanskap iman dan latar geografi yang berbeda, Gustavo Gutierrez, Hassan Hanafi, Ali Syariati, dan Haji Misbach disatukan oleh satu visi radikal: Tuhan tidak hanya bersemayam di Arsy yang jauh, tetapi hadir dalam deru perut yang lapar dan pedih punggung yang dicambuk.

Gutierrez: Suara Kaum Miskin Amerika Latin

Melalui mahakaryanya, A Theology of Liberation (1971), Gustavo Gutierrez—seorang pastor asal Peru—mendobrak ortodoksi Katolik.

Ia memangkas doktrin-doktrin gereja yang dinilai tidak bersimpati kepada orang miskin dan kaum tertindas.

Baca juga: OPINI Respon Konflik AS & Israel Vs Iran: Memperkuat Stabilitas Sistem Keuangan Domestik

Bagi Gutierrez, teologi bukanlah menara gading akademis, melainkan respons iman yang bergetar terhadap realitas kemiskinan di Amerika Latin.

Ia menggeser diskursus dari sekadar "bagaimana membicarakan Tuhan" menjadi "bagaimana mewartakan Tuhan di tengah penderitaan orang miskin dan tertindas."

Dengan pilar Preferential Option for the Poor, Gutierrez menegaskan bahwa Tuhan tidak netral; Tuhan secara eksplisit memihak mereka yang terpinggirkan.

Ini bukan karena benci terhadap si kaya, melainkan pembelaan teologis terhadap mereka yang dirampas hak-haknya.

Gereja pun ditantang untuk melebur dengan nasib kaum miskin sebagai manifestasi konkret kasih Ilahi.

Ia mereformulasi makna "keselamatan" (salvation). Keselamatan tidak boleh terpenjara dalam dimensi eskatologis semata, melainkan harus diejawantahkan di dunia.

Bagi Gutierrez, dosa tidak hanya bersifat individual seperti mencuri, melainkan "dosa struktural"—kebijakan sistemik yang memiskinkan petani dan melanggengkan ketidakadilan.

Baca juga: OPINI Sertifikasi Kompetensi: Jantung dari Visi Sulawesi Tenggara Maju dan Solusi Pengangguran

Maka, tugas Gereja adalah melakukan kritik profetik terhadap struktur yang tiran tersebut.

Ia mengubah teologi dari sekadar teks menjadi refleksi kritis atas praksis sejarah. Teologi tidak dimulai dari buku-buku teori, tapi dari keprihatinan sosial, lalu bergerak ke aksi (praksis), dan diakhiri dengan refleksi di hadapan Tuhan.

Gutierrez berhasil menarik wajah Gereja Katolik dari episentrum kekuasaan menuju "pinggiran".

Hassan Hanafi: Oksidentalisme dan Kiri Islam

Hassan Hanafi, salah satu pemikir kontemporer asal Mesir paling berpengaruh yang menggagas "Kiri Islam" (Al-Yasar al-Islami) untuk merekonstruksi teologi tradisional (Kalam).

Ia menggeser fokus dari diskusi abstrak tentang esensi Tuhan (teosentris) menuju praksis kemanusiaan di bumi (antroposentris).

Melalui proyek Al-Turats wa al-Tajdid, Hanafi memfungsikan agama sebagai instrumen emansipasi.

Baca juga: OPINI: Jika Bandara Hadir, Ke Mana Arah Kolaka Utara Melangkah?

Ia menafsirkan Asma al-Husna bukan sekadar nama Tuhan, melainkan nilai perjuangan; misalnya, Al-Adl (Keadilan) adalah mandat profetik bagi manusia untuk meruntuhkan kesenjangan sosial.

Struktur teologi pembebasannya bertumpu pada tiga dimensi responsif.

Pertama, revitalisasi Turats dengan menafsir ulang warisan Islam agar menjadi energi pembebasan, bukan sekadar romantisme usang.

Kedua, melalui metode Oksidentalisme, ia mengajak untuk memposisikan Barat sebagai objek studi kritis guna memutus rantai imperialisme budaya.

Ketiga, teologi harus berangkat dari analisis realitas yang menjadikan kemiskinan dan penindasan politik sebagai titik tolak berteologi, bukan sekadar teks klasik.

Bagi Hanafi, Tauhid adalah deklarasi pembebasan. Mengesakan Tuhan berarti meniadakan segala "tuhan-tuhan" duniawi—baik itu diktator, sistem kapitalisme yang menghisap, maupun imperialisme.

Menurutnya inti dari pesan agama adalah pembelaan terhadap kaum mustadh'afin. Hanafi menekankan bahwa wahyu diturunkan dalam konteks sejarah; karena itu kebenaran agama harus diuji melalui kemampuannya menyelesaikan persoalan kemanusiaan.

Jika sebuah penafsiran agama justru melegitimasi penindasan, maka penafsiran tersebut harus ditolak dan didekonstruksi.

Baca juga: OPINI: Ketika Buku dan Pulpen Menjadi Beban yang Terlalu Berat

Ali Syariati: Revolusi dan Spiritualitas Karbala

Ali Syari'ati adalah intelektual revolusioner yang brilian mengawinkan sosiologi Barat dengan teologi Syiah.

Baginya, agama yang benar adalah agama yang mampu menggerakkan massa untuk merdeka.

Syari'ati memaknai Tauhid sebagai worldview yang anti-diskriminasi. Keesaan Tuhan adalah basis kesetaraan manusia; maka segala bentuk penghambaan—baik ekonomi, politik, maupun ras—adalah pengkhianatan terhadap Tauhid.

Ia membagi agama dalam dua wajah yakni agama institusi yang menjadi "obat penenang" bagi rakyat agar patuh pada penguasa, dan agama kesadaran yang membangkitkan keberanian melawan tirani.

Ia menegaskan bahwa dalam Al-Qur'an, posisi al-Nas (rakyat) sejajar dengan Allah dalam konteks tanggung jawab sosial. Rakyat adalah aktor utama penggerak sejarah.

Pencapaian terbesarnya adalah mengubah duka Karbala yang pasif menjadi energi revolusioner yang meledak.

Dengan semboyan "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala," Syari'ati menekankan bahwa seorang Muslim harus selalu dalam posisi siap melawan penindasan.

Karbala bukan lagi sekadar tangisan sejarah, melainkan simbol kemenangan moral di atas superioritas militer.

Baca juga: Data Kemiskinan di Sulawesi Tenggara, 5 Kabupaten Berpenduduk Miskin Terbanyak, Persentase Tertinggi

Haji Misbach: "Haji Merah" dari Surakarta

Haji Mohammad Misbach adalah anomali dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Sebagai tokoh penting Syarikat Islam (Merah), ia secara radikal menyintesiskan dua kutub yang sering dianggap mustahil bertemu: Islam dan Komunisme.

Berbeda dengan tokoh lain yang lebih filosofis, teologi Misbach adalah teologi lapangan; teologi aksi yang dibungkus dengan slogan-slogan perlawanan terhadap kolonialisme.

Bagi Misbach, esensi Islam adalah keadilan sosial. Ia mengecam sikap pasif-fatalistik para ulama tradisional yang dianggapnya terkesan "menjual diri" pada kolonial.

Gagasannya yang paling provokatif adalah memposisikan tubuh teoretis dari komunisme sebagai alat efektif untuk mewujudkan cita-cita sosial Islam: menghapus eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l'homme par l'homme).

Ia melihat sinkronisasi antara nilai keadilan Islam dengan perjuangan kelas Marxisme.

Misbach tak segan menjuluki muslim yang bungkam terhadap kapitalisme sebagai "muslim palsu."

Baginya, kapitalisme adalah "setan" nyata yang menghisap darah rakyat. Kemiskinan di Hindia Belanda bukanlah takdir, melainkan luaran (output) dari kejahatan sistemik kolonial. 

Menariknya, gagasan Misbach pada dekade 1930-an ini mendahului fondasi Teologi Pembebasan yang baru populer di Amerika Latin empat dekade setelahnya.

Penutup: Ibadah Tertinggi

Keempat tokoh ini adalah bukti hidup bahwa teologi pembebasan adalah gerakan yang menghidupkan iman melalui perlawanan.

Mereka bersepakat bahwa kesalehan tidak boleh terpenjara di dalam tembok rumah ibadah sementara di luar sana kemiskinan merajalela.

Gutierrez meletakkan fondasi moral, Hanafi membangun kerangka intelektual, Syari'ati menyulut heroisme, dan Haji Misbach memberi teladan aksi di tanah jajahan.

Meski berbeda secara doktrinal, mereka berlabuh pada satu muara yang sama: Keadilan sosial adalah bentuk tertinggi dari ibadah.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved