OPINI
OPINI: Esensi Otonomi Daerah
Dalam konteks inilah, penolakan warga terhadap pemimpin yang dipersepsikan sebagai "barang impor" harus dibaca secara jernih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/zainal-arifin-ryha-2-23-september-2021.jpg)
Oleh: Zainal Arifin Ryha
Pemerhati Sosial di Baubau/Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - "Hakikat otonomi daerah adalah otonomi politik," tegas Ryaas Rasyid dalam sebuah bincang santai di lobi hotel kawasan Pantai Losari, Makassar, di fajar reformasi.
Pernyataan guru besar ilmu politik dan arsitek desentralisasi ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah peringatan: tanpa kedaulatan politik di tingkat lokal, otonomi hanya akan menjadi perpindahan administratif tanpa jiwa.
Mantan Menteri Otonomi Daerah ini menekankan bahwa otonomi politik adalah hak warga daerah untuk menentukan nasibnya sendiri melalui pemimpin yang "senyawa" dengan mereka—sosok yang memahami DNA budaya, peta persoalan, dan denyut nadi kebutuhan masyarakat setempat. Tujuannya jelas: membangun kontrak sosial bottom-up di mana pemimpin hadir untuk melayani, bukan menjadi perpanjangan tangan pusat yang represif.
Ironi Kelas Menengah Indonesia
Penjelasan Prof. Ryaas di atas sekaligus merupakan jawaban terhadap pertanyaan lama yang jadi diskursus akademik soal entri point untuk membangun demokrasi dan kemandirian ekonomi warga dalam konteks Indonesia: Harus dimulai dengan membangun swadaya politik warga terlebih dahulu atau swadaya ekonominya?
Memang antara politik dan ekonomi memiliki tali temali dan saling mengandaikan. Di negara-negara otoriter, sulit terbangun swadaya ekonomi karena tidak tersedia ruang ekspresi dan kebebasan yang cukup bagi warga untuk membangun kemandirian ekonominya. Sistem yang terbangun adalah sistem yang etatis, sistem ekonomi komando, yang serba peraturan dan serba negara.
Baca juga: OPINI: Revolusi Pendidikan atau Sekadar Ganti Nama? Kritik Kurikulum Baru dan Pembelajaran Mendalam
Sebaliknya di negara-negara yang tergolong miskin, sulit menegakkan prinsip dan nilai-nilai demokrasi disebabkan mayoritas warga tidak memiliki sumber daya ekonomi yang memadai untuk menopang kadaulatan dan kemandirian politiknya.
Sejarah Eropa menunjukkan bahwa demokrasi modern lahir dari perjuangan kaum borjuasi yang mandiri secara ekonomi. Mereka berjuang membatasi privilege penguasa monarki agar tercipta ruang aktualisasi bagi warga untuk mengekspresikan diri secara bebas, tanpa tekanan negara. Sebab itu, berkaca pada sejarah Inggris Max Weber menegaskan, "Tidak ada demokrasi tanpa borjuasi.
Namun, Indonesia menghadapi anomali. Berdasarkan sejarah yang membentuknya struktur kapitalisme kita, sebagaimana diidentifikasi Yoshihara Kunio, adalah Ersatz Capitalism (kapitalisme semu). Kelas menengah kita tidak lahir dari kompetisi pasar, melainkan "diternakkan" oleh birokrasi. Mereka adalah kapitalis birokrat yang hidup dari proteksi yang berlindung di bawah ketiak kekuasaan.
Sebagai akibatnya, mereka tidak punya kepentingan dan orientasi terhadap perubahan; mereka justru menjadi jangkar bagi status quo yang sentralistik.
Otonomi Sebagai Benteng Kedaulatan
Dalam konteks inilah, penolakan warga terhadap pemimpin yang dipersepsikan sebagai "barang impor" harus dibaca secara jernih.
Ini bukan soal rasisme atau sentimen kedaerahan sempit. Ini adalah perlawanan terhadap upaya sistematis yang menjadikan daerah sebagai pasar politik bagi elite Jakarta.