Menyapa Nusantara
Merawat Nasionalisme Melalui Pendidikan dan Kebudayaan
Salah satu bentuk refleksi tersebut adalah merawat nasionalisme melalui pemajuan bidang pendidikan dan kebudayaan.
Penulis: Content Writer | Editor: Amelda Devi Indriyani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pengendara-melintas-di-samping-dekorasi-bertema-kemerdekaan-di-kawasan-Pasar-Gede-Jawa-Tengah.jpg)
Oleh karena itu, di tengah arus deras AI, pendidikan harus kembali berpijak pada kebudayaan. Pendidikan yang terputus dari akar budayanya akan kehilangan arah. Budaya lokal, dengan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tenggang rasa, dan solidaritas, saling menghormati dan menghargai, adalah perekat identitas bangsa.
Sayangnya, nilai-nilai ini mulai terkikis oleh budaya digital yang individualistis dan serba instan. Contohnya, alih-alih berpartisipasi dalam kerja bakti di lingkungan, anak muda lebih sering menghabiskan waktu di media sosial, terisolasi dalam gawai mereka.
Solusi
Jalan keluarnya bukanlah menolak AI, melainkan menempatkannya sebagai alat bantu, bukan guru utama. Pendidikan harus mengendalikan teknologi, bukan tunduk padanya dan melemahkan daya kritis dan reflektif.
Untuk itu, guru perlu diberdayakan sebagai fasilitator kebudayaan dan penjaga nasionalisme, bukan sekadar penyampai materi. Kurikulum juga perlu disempurnakan dan diarahkan untuk membangun kepekaan sejarah, kecintaan pada Tuhan, sesama dan Tanah Air, dan kemampuan berpikir reflektif.
Pendekatan pendidikan berbasis kebudayaan harus dirancang secara partisipatif dan kontekstual. Misalnya, pengajaran sejarah tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi mengajak siswa memahami makna perjuangan dan relevansinya bagi kehidupan saat ini.
Siswa bisa diminta melakukan wawancara dengan veteran kemerdekaan di daerah mereka atau membuat film dokumenter tentang sejarah lokal.
Contoh lain, proyek-proyek pembelajaran yang menumbuhkan cinta lingkungan bisa diwujudkan dengan mengajak siswa berpartisipasi dalam program konservasi terumbu karang di pesisir, atau mengelola bank sampah di sekolah mereka sendiri.
Praktik tradisi lokal, seperti lomba mendongeng cerita rakyat atau festival kuliner daerah, serta dialog antarbudaya, akan efektif memperkuat identitas dan kohesi sosial.
Kegiatan spiritual misalnya, peserta didik diajak merefleksikan kehidupan bermakna dan berkarakter dengan mempraktikan doa, refleksi dan aksi kepada mereka yang lemah dan miskin.
Pada akhirnya, nasionalisme di era AI bukanlah sekadar nostalgia masa lalu. Ini adalah upaya sadar untuk memelihara rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap bangsa dalam lanskap global yang terus berubah.
Pendidikan dan kebudayaan adalah dua ruang strategis untuk merawat nasionalisme tersebut asal kita bersedia menjadikannya prioritas, bukan sekadar slogan.
Dirgahayu Republik Indonesia.
*) Pormadi Simbolon adalah pemerhati isu pendidikan, alumnus STF Driyarkara Jakarta, tinggal di Banten.
(ANTARA/Pormadi Simbolon/Rabu, 6 Agustus 2025)
| Pasar Basah Mandonga Kota Kendari Sulawesi Tenggara Sepi Pembeli, Pedagang Beras Hanya Andalkan SPHP |
|
|---|
| Veteran Sulawesi Tenggara Harap Pemerintah Perjuangkan Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat |
|
|---|
| Daftar 10 Lagu Nasional Tema Kemerdekaan 17 Agustus, Bangkitkan Jiwa Nasionalisme |
|
|---|
| Syarat WNA Bisa Ajukan Visa Pendidikan Non Formal Indonesia, Daftar Online, Biaya PNBP |
|
|---|