OPINI
OPINI: Warkop dan Gelas yang Kosong
Di Kota Kendari, setiap sudut mulai dipenuhi aroma kopi. Warkop tumbuh bak jamur yang tak peduli musim, menyemai kenyamanan dan keramahan ruang
Oleh: Muhammad Akbar Ali
(Penikmat Buku, Menulis dan Diskusi)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Di Kota Kendari, setiap sudut mulai dipenuhi aroma kopi. Warkop tumbuh bak jamur yang tak peduli musim, menyemai kenyamanan dan keramahan ruang—seolah kota ini telah sepakat menjadikan kopi sebagai denyut sosial yang baru.
Tapi dibalik semerbak robusta dan arabika, aku menyaksikan kenyataan pahit: meja-meja yang ramai, tapi wacana yang sepi.
Aku menyusuri kursi-kursi itu. Di atasnya duduk muda-mudi yang mestinya menjadi bara api perubahan.
Tapi yang kulihat: mereka sibuk mengusap layar ponsel, tertawa dalam candaan remeh, membuang waktu dalam game, atau tenggelam dalam dunia maya yang penuh kebisingan tapi minim perenungan.
Bahkan tak jarang, ada yang berjudi atas nama hiburan. Ruang yang seharusnya menjadi tempat tumbuh gagasan justru menjadi taman hampa, tempat orang datang hanya untuk melupakan arah.
Baca juga: OPINI: Citizen Science Sebagai Cara Lain dalam Mencari Solusi Terkait Isu Lingkungan
Mungkin aku salah. Atau bisa jadi aku hanya terlalu berharap. Tapi bukankah harapan itu tanda cinta pada kota? Pada bangsa?
Dulu, warung kopi adalah tempat di mana gagasan revolusioner lahir, di mana puisi dibacakan dengan darah muda, dan diskusi melahirkan gerakan. Sekarang? Kopi tinggal kopi. Tak lagi jadi pemantik api.
Aku membayangkan, andai saja setiap cangkir yang diseruput bisa memunculkan satu ide untuk kemajuan, satu keresahan untuk dijawab, satu tekad untuk diwujudkan.
Maka Kendari tidak hanya dipenuhi aroma kopi, tapi juga semangat untuk membangun masa depan.
Warkop bisa tetap jadi tempat tertawa, tentu. Tapi jangan biarkan ia mati sebagai ruang yang hanya menyajikan gula dan wifi.
Baca juga: 3 Penjual Biji Kopi di Kendari Sulawesi Tenggara, Cocok untuk Bisnis Coffee Shop hingga Restoran
Mestinya, ia jadi taman wacana, tempat muda-mudi menata mimpi dan menantang realita.
Aku menulis ini bukan untuk menggurui. Aku hanya menyampaikan rasa dari hati yang ingin melihat perubahan.
Jika opini ini salah, biarlah dibantah dengan diskusi. Jika benar, biarlah jadi percikan kecil menuju kobaran kesadaran.(*)
OPINI: Citizen Science Sebagai Cara Lain dalam Mencari Solusi Terkait Isu Lingkungan |
![]() |
---|
OPINI Menata Landmark Sebagai Ruang Identitas, Aktivitas Publik: Kritik Penataan Kawasan MTQ Kendari |
![]() |
---|
OPINI: Ulat Kelapa: Hama yang Ternyata Kaya Manfaat bagi Industri Enzim Nasional |
![]() |
---|
OPINI: Ketika Tradisi Abaikan Hak Anak: Kajian Sosiologi Hukum Pernikahan Dini di Sulawesi Tenggara |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.