Berita Kendari

Kecamatan Puuwatu Kendari Tertinggi Kasus DBD Ada 32 kasus, Total Kematian Mencapai 4 Orang

Kecamatan Puuwatu terbanyak sepanjang 2022, mencatatkan kasus tertinggi DBD yakni 32 kasus, kemudian Kecamatan Baruga, ada 26 kasus.

(Amelda Devi Indriyani/TribunnewsSultra.com)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari Ellfi, menyebut kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan Puuwatu. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Salah satu kecamatan di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi.

Yakni Kecamatan Puuwatu terbanyak sepanjang 2022, mencatatkan kasus tertinggi DBD.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan atau Dinkes Kota Kendari, Ellfi menyebut, sejak Januari hingga Juli 2022 ada sebabyak 170 kasus DBD di Kota Kendari.

Kecamatan Puuwatu berada di posisi pertama wilayah dengan kasus DBD tertinggi yakni 32 kasus.

Baca juga: Kasus HIV-AIDS di Kota Kendari Meningkat Tahun 2022 hingga Juli Dinkes Mencatat 152 Kasus

Kemudian Kecamatan Baruga, wilayah kerja Puskesmas Lepo-lepo sebanyak 26 kasus. Selanjutnya Kecamatan Kendari Barat, Puskesmas Kemaraya sebanyak 22 kasus.

Lalu, persebaran kasus DBD tersebut terdapat dibeberapa wilayah pusat pelayanan kesehatan yakni Puskesmas Mata 5 kasus, Puskesmas Kandai 3 kasus, Puskesmas Labibia 6 kasus.

Puskesmas Perumnas 18 kasus, Puskesmas Jati Raya 18 kasus, Puskesmas Wua-wua 18 kasus, Puskesmas Mekar 11 kasus, Puskesmas Poasia 11 kasus.

Namun masih ada wilayah yang masih nol kasus seperti di wilayah puskesmas Benu-Benua, Puskesmas Mokoau, Puskesmas Abeli, Puskesmas Nambo masih nol kasus.

Sedangkan Kasus kematian akibat DBD hingga Juli 2022 ini sebanyak 4 orang, di mana tertinggi di Kecamatan Wua-wua

Baca juga: TERBARU Harga Beras dan Telur di Pasar Tradisional Konawe Utara Sultra Mengalami Kenaikan

Tentunya dengan adanya kasus DBD tersebut, pihaknya terus mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menerapkan 3M plus yakni mengubur, menguras dan menutup.

Lalu selanjutnya, memakai kelambu, lotion dan lain sebagainya yang dinilai lebih efektif untuk pencegahan dan pemberantasan perkembangbiakan nyamuk.

Sementara foging, menurutnya menjadi langkah terakhir jika didapati kasus kematian akibat DBD. Kata dia, foging juga dinilai kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak memberantas jentik nyamuk.

Baca juga: KPU Sosialisasi Pemilu dan Pilkada Sasar Generasi Milenial Siswa SMA se Kota Kendari

Selain itu, foging juga memerlukan biaya yang besar dan dinilai cukup berbahaya bagi rumah-rumah warga yang di sempat foging karena terbuat dari bahan kimia.

Sebelum di lakukan foging, tentunya harus memenuhi ketentuan dengan melakukan surveilens terlebih dahulu, mengecek lokasi terjadinya Kasus dbd, melihat tingkat penyebaran Kasus dbd dan jentik nyamuk.

"Kalau foging kan hanya satu Minggu dan itu hanya membunuh nyamuk dewasa bukan jentik nyamuk, yang lebih efektif memang 3M ini, " tutupnya.

(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved