Penjelasan Lengkap Kemenkes soal Cacar Monyet hingga Update Kasus Monkeypox di Indonesia

Penjelasan WHO dan Kemenkes RI terkait Apa itu Cacar Monyet, Penyebab, Sejarah, Gejala, update kasus di Indonesia, hingga komplikasi penyakit.

Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ifa Nabila
rte.ie via Tribunnews.com
Foto: Roche mengklaim berhasil menemukan alat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi penyakit cacar monyet (Monkeypox), saat virus itu menyebar ke luar dari negara endemik. Seorang pakar penyakit menular Rusia mengklaim bahwa Monkeypox tidak dapat dianggap sebagai pandemi karena kasus yang ditemukan kecil. Begini penjelasan WHO dan Kemenkes RI terkait Apa itu Cacar Monyet, Penyebab, Sejarah, Gejala, update kasus di Indonesia, hingga komplikasi penyakit. 

Adapun dalam konferensi pers virtual yang tayang di kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI pada Jumat (24/6/2022) lalu, Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menjelaskan terkait penyakit Cacar Monyet.

Mulai dari gejala Cacar Monyet yang tampak dari hari ke hari hingga cara penularan dan kemungkinan komplikasi penyakit yang timbul.

Gejala Cacar Monyet

Masa inkubasi Cacar Monyet terjadi kurang lebih selama 5-13 hari atau 5-21 hari.

Gejala Cacar Monyet dari hari ke hari sendiri terbagi menjadi dua periode, yakni periode masa invasi selama 0-5 hari dan masa erupsi 1-3 hari.

Baca juga: Win Metawin Positif Covid-19, Bright Vachirawit Pemain Drama Thailand Astrophile: GWS Lil Bro

1. Masa Invasi (0-5 hari)

Masa invasi cacar monyet atau monkeypox berlangsung selama kurang lebih 0-5 hari.

Selama masa invasi, penderita akan merasakan gejala berupa demam tinggi, sefalgia atau sakit kepala berat, dan limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening/limfe.

Bukan hanya itu, penderita juga umumnya merasakan gejala myalgia atau nyeri otot, serta astenia atau badan lemas.

"Ini yang khasnya, yaitu demam tinggi, kemudian sakit kepala yang berat, dan ada benjolan pembesaran kelenjar limfe di leher, ketiak, atau selangkangan, dan ada sakit-sakit otot termasuk pegal-pegal," ujar Syahril seperti dilansir TribunnewsSultra.com dari Kompas.com, Selasa (28/6/2022).

Baca juga: Jumlah Kasus Hepatitis Misterius di Dunia Tembus 300, WHO Bakal Periksa Kaitannya dengan Covid-19

2. Masa Erupsi (1-3 hari)

Masa erupsi terjadi setelah demam selama 1-3 hari dan ditandai dengan munculnya ruam-ruam pada kulit.

Syahril menuturkan bahwa ruam paling banyak terjadi pada wajah, yaitu sekitar 95 persen.

Ruam juga bisa terjadi di telapak tangan dan kaki (75 persen), mukosa (70 persen), alat kelamin (30 persen), serta selaput lendir mata (20 persen).

Baca juga: Waspada Hepatitis Misterius, 21 Kasus Suspek Hepatitis Akut Misterius Ditemukan di Jakarta

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved