Berita Kendari

Kisah Perawat di RSUD Kendari Pertama Kali Tugas Rawat Pasien Covid-19, Sempat Ditentang Orangtua

Inilah kisah perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari, Abdul Rahman Mayoro (28), pertama kali bertugas langsung jadi perawat pasien Covid-19.

TribunnewsSultra.com/ Amelda Devi Indriyani
Perawat di RSUD Kendari Abdul Rahman Mayoro (28) 

Hingga dirinya harus menguras tenaga, karena merasa sesak dan kepanasan. Tentu berbeda dengan saat merawat pasien non Covid-19.

Baca juga: Pemerintah Sebut Pelonggaran Pemakaian Masker Merupakan Transisi Pandemi ke Endemi Covid-19

Ia dan perawat lainnya harus terus mengontrol dan menjaga pasien Covid-19 selama 24 jam. Lantaran pihak keluarga dilarang untuk menjenguk pasien meminimalisir penyebaran Covid-19.

"Sebelum masuk dan keluar dari ruang perawatan Covid-19 itu harus benar-benar steril, saat pakai asmat keringat sampai sekujur tubuh, masker berlapis sampai sesak, itu biasa 3-4 jam di dalam," bebernya.

Kata dia, tak jarang sering cekcok dengan pihak keluarga pasien yang memaksa untuk menemani pasien selama perawatan di rumah sakit.

Abdul Rahman kini sangat bersyukur lantaran pasien positif Covid-19 mulai berkurang, bahkan tidak ada lagi di RSUD Kota Kendari.

Ia berharap Covid-19 segera benar-benar hilang agar tidak lagi menggunakan APD yang cukup menyiksa, serta pertengkaran antara perawat, pasien dan keluarga pasien tidak lagi terjadi.

Baca juga: PPNI Kendari Ditantang Hadirkan Aplikasi Perawat Mandiri, Inovasi Mudahkan Pelayanan Kesehatan

"Jadi ketika kita menjelaskan ke warga itu harus bertengkar dulu. Jadi kami berharap Covid-19 cepat berakhir supaya keluarga pasien, pasien dan perawat sudah tidak dianggap musuh lagi, ketika kita menjelaskan kita tidak dicurigai," ujarnya.

Selain pengalaman tersebut, ia juga menceritakan peran pemerintah kota dan pihak rumah sakit kepada perawat cukup baik.

Di antaranya keperluan APD dan keperluan untuk memberikan pelayanan lainnya terus selalu dipenuhi, termasuk pemberian insentif bagi perawat meskipun kadang terlambat.

"Bukan juga tidak ada, ada insentif tapi ada yang terlambat, karena pasti butuh penginputan data, tapi tetap ada tetap jalan insentifnya hanya tidak tepat waktu," ujarnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved