OPINI
Opini: Kader Refleksi Dies Natalis GMNI ke 68 Tahun, Transformasi Gerakan Menuju Satu Dekade
Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) turut menyukseskan Dies Natal
Penulis: Mukhtar Kamal | Editor: Laode Ari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ketua-GMNI-Kendari.jpg)
Terbentuknya citra tersebut karena di pengaruhi oleh banyaknya mantan aktivis gerakan mahasiswa nasional Indonesia yang meniti karier politik di partai itu.
Pandangan itulah yang menjadi kendala aktivis gerakan mahasiswa nasional indonesia bahkan mungkin sampai saat ini untuk melebarkan sayap-sayap marhaenisme ajaran Bung Karno, menjalankan dari pada roda dan kerja-kerja organisasi.
Namun terlepas dari hal tersebut, terdapat pelajaran dan hikmah yang menarik dari proses pelajaran sejarah itu. Sebab pada awalnya gerakan mahasiswa nasional indonesia adalah upaya merealisasikan cita-cita dan perjuangannya membawa semangat berdiri dalam sikap teguh, pendirian dan independensinya.
Namun pada masa itu juga memberikan pelajaran terbaik, keterpurukan tak harus kita sesali dengan jalan membangun trauma politik karena pada dasarnya setiap zaman, peristiwa dan kejadian mempunyai tantangan yang berbeda -beda dalam proses perjalanan sejarah.
Sehingga dengan keterpurukan dan hikmah sejarah itu dapat memberikan kesadaran baru untuk bangkit kembali dan meneruskan sejarah perjuangan gerakan mahasiswa nasional Indonesia sebagai organisasi kader yang berhaluan nasionalis.
Pasang surut Gerakan Mahasiswa
Kebangkitan kembali gerakan mahasiswa nasional indonesia tak juga mengharuskan kita untuk selalu kaku dalam menghadapi situasi politik dan nasional yang mencekam karena sejarah tersebutlah yang menjadi pegangan kita. Karena hak tersebut tak lahir secara instan namun melalui kalkulasi politik yang matang dan cerdas.
Pemikiran kritis atas berbagai carut marut perjalanan gerakan mahasiswa nasional Indonesia harus tetap ada untuk mengubah haluan bangsa ini menuju cita-cita sosialisme indonesia. sehingga menjadi sangat penting proses perjalanan gerakan mahasiswa nasional indonesia berikutnya membuktikan bahwa keputusan itu tak salah dan suatu keharusan sejarah yang harus kita pilih dan tempuh.
Selain menjadi pijakan kebangkitan aktivis gerakan mahasiswa nasional indonesia, keputusan itu pulalah untuk membawa GMNI menghadapi masa-masa sulit dan selamat dari proses penataan politik pragmatisme.
Baca juga: Cara GMNI Kendari Peringati 10 November, Refleksikan Hari Pahlawan Lewat Panggung Ekspresi
Ujian terhadap independensi itu bukan tak ada sama sekali. dalam setiap proses waktu dan kesempatan godaan-godaan itu akan muncul seperti ombak yang berseru kencang yang menyeret kita pada pusaran kepentingan pragmatisme politik dan sesat.
Menyikapi fenomena dan keadaan tersebut selayaknya generasi baru gerakan mahasiswa nasional Indonesia dapat menempatkan posisi sejarah dalam kerangka pembelajaran dan refleksi untuk kemudian merubah tatanan masyarakat dan bangsa kearah yang lebih baik lagi.
Pelajaran itu tentunya mengenai kecerdasan dalam membaca petak politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan.
Pelajaran tersebut telah di tunjukan oleh aktivis gerakan mahasiswa nasional Indonesia pada masa itu, ini bukan proses hegemoni atau romantisme sejarah itu sendiri meski kita akui bahwa di masa-masa sulit itu sangat penting sekali untuk menentukan sikap sebaik mungkin.
GMNI perlu kembali menyegarkan wawasan kemahasiswaan sebagai organisasi mahasiswa yang berbasiskan intelektual muda. Di sisi lain harus lebih dekat dengan isu dan wacana sosial politik yang ada baik di tataran lokal maupun nasional karena idealisme pemuda dan mahasiswa sebagai pilar penyangga dan pendorong jati diri bangsa.
Jadi keberadaan mahasiswa dan organisasi harus selalu menjadi spirit perjuangan dan pergerakan, motivasi dan inspirasi untuk generasi yang masih kurang berkecimpung dalam kelembagaan internal maupun eksternal. Hal tersebutlah yang harus terus di dorong agar dalam kancah sejarah kita tidak di gilas oleh perkembangan zaman yang ada apa lagi sebelumnya GmnI secara nasional mengambil takjub “ Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman”. (*)
(TribunnewsSultra.com/Husni Husein)