OPINI

Opini: Kader Refleksi Dies Natalis GMNI ke 68 Tahun, Transformasi Gerakan Menuju Satu Dekade

Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) turut menyukseskan Dies Natal

Penulis: Husni Husein | Editor: Laode Ari
Handover
Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI- Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) turut menyukseskan Dies Natalis ke 68 GMNI.

Penulis dalam kesempatannya sekaligus merefleksi dianggap penting dengan dies natalis tersebut bisa menjadi renungan dalam memperbaiki hal-hal yang penting untuk perubahan GMNI kedepan.

Menciptakan dan melahirkan kepeloporan kepemimpinan yang progres dan revolusioner adalah salah satu dari berbagai target dan sasaran GMNI kedepan. Mengisi ruang dan pos-pos kritis dari berbagai lini sektor, bisa melakukan gebrakan loncatan intelektual yang lebih jauh ke depan.

Melakukan pemberdayaan dan membangun sumber daya manusia untuk tata kelola SDA dan mempersatukan barisan nasionalis marhaenis baik nasional maupun di tataran cabang seluruh Indonesia.

Sehingga terkait dengan orientasi dan tujuan GMNI yang berhaluan nasionalis dengan asas perjuangan marhaenisme bisa terwujud dalam pengejawantahannya dengan baik dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.

Jauh dari itu, harapan terselenggaranya dies natalis GmnI bisa merefleksi perjalanan GmnI secara historis, dan membawa kepeloporan kepemimpinan yang dapat menyatukan dan merangkul seluruh elemen gerakan.

Baca juga: GMNI Sebut Aktivitas PT GKP di Konkep Harus Sesuai Regulasi dan Pemerintah Harus Transparan

Secara HISTORIS berbicara mengenai gerakan organisasi GmnI akan selalu menjadi tema menarik, menegangkan dan akan selalu menjadi wacana dalam seluk beluk pergerakan mahasiswa dalam mengisi pos-pos kritis dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

Penulis sendiri yang bergelut dalam organisasi GmnI mengetahui betul meski bukan pelaku sejarah tetapi dalam berbagai literatur arus kekuatan GmnI sempat terkubur.

Kita pernah mengalami suatu masa di mana rezim orde baru tak memberikan ruang dan keleluasan bagi entitas organisasi sosial politik yang berbeda dengan kekuatan orde baru sehingga terjadi adanya upaya Desoekarnoisasi dan menghilangkan ajarannya marhaenisme sebagai asas perjuangan gerakan mahasiswa nasional indonesia itu sendiri.

Di situlah upaya mengaburkan fakta sejarah untuk menjauhkan bung karno dari pengikut-pengikutnya. Selalu ada pasang surut dalam setiap dinamika politik kebangsaan tetapi kita tak boleh terlempar dan tergilas dari fase sejarah bahkan untuk harus menjadi penonton.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved